KRAKATAU.ID, PESAWARAN – Hari itu, Desa Margorejo, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya karena hilir mudik umat di dua vihara yang menjadi pusat perayaan Waisak, tapi juga karena kehadiran para pemuda lintas agama yang berdiri bersama, berjaga, dan bersilaturahmi di tengah semangat kebersamaan.
Hari Raya Waisak, Senin (12/5/2025), tak hanya dirayakan oleh umat Buddha di Vihara Jina Marga Dipa dan Vihara Sakya Murti, tapi juga dijaga oleh tangan-tangan muda dari berbagai latar belakang. Ada Pemuda Katolik, pemuda Muslim, pemuda Kristen, anggota Polsek Tegineneng, dan bahkan perwakilan Pekumpulan Masyarakat Bersatu (Pambers) yang turut serta dalam menjaga ketertiban dan menunjukkan bahwa damai itu nyata—dan bisa dimulai dari yang muda.
“Untuk umat Buddha yang hadir sekitar 500–600 orang,” kata Antonius Jumakir, Pendamping Pemuda Lintas Agama, saat dihubungi Krakatau.id, Rabu (14/5/2025.
“Kami bersama-sama menjaga dua vihara, menciptakan rasa aman, dan menunjukkan bahwa perbedaan itu bukan penghalang untuk bersatu,” tandasnya.
Ada 9 anggota kepolisian, 20 pemuda lintas agama, 10 pemuda Katolik, dan 2 orang dari Pambers yang turun langsung hari itu. Tapi lebih dari angka, yang terasa kuat adalah ikatan batin yang tumbuh di antara mereka: ikatan kemanusiaan.
Di tengah seringnya narasi perpecahan menghiasi media sosial dan layar kaca, langkah kecil di desa ini menjadi penanda penting bahwa harmoni bisa dibangun—asal ada niat.
“Kami ingin memberikan penyadaran kepada orang muda, agar mereka tumbuh dengan semangat persatuan,” ujar Jumakir yang juga merupakan pengurus Pemuda Katolik Komda Lampung.
“Supaya kerukunan itu tidak terus putus. Ini bukan tentang hari ini saja, tapi tentang estafet nilai untuk generasi setelah kami,” tambahnya.
Di banyak tempat, upaya menjaga toleransi kerap datang dari tokoh-tokoh senior atau pihak berwenang. Tapi di Tegineneng, justru para pemudanya yang mengambil peran terdepan.
“Kami menggalakkan orang-orang muda di sini untuk membangun sikap persaudaraan. Karena kalau mereka sudah terbiasa hidup rukun sejak muda, maka mereka akan tumbuh menjadi pemimpin yang bijak,” ungkapnya.
Perayaan Waisak yang penuh makna ini tidak hanya menjadi momen refleksi bagi umat Buddha, tetapi juga mengirim pesan universal tentang pengendalian diri, kebijaksanaan, dan pentingnya perdamaian dunia. Pesan ini dirasakan dan dijaga oleh semua yang hadir malam itu—baik yang merayakan maupun yang menjaga.
Melalui silaturahmi lintas iman, para pemuda menunjukkan bahwa agama, ketika dijalani dengan hati, akan membawa damai, bukan permusuhan.
Dan hari itu, di dua vihara kecil di Tegineneng, pesan itu bergema lebih kuat dari suara doa: bahwa di tangan pemuda, masa depan perdamaian Indonesia bisa tetap terjaga.***






