Romo Roy Pimpin Misa Rabu Abu di Stasi Suka Bandung, Umat Katolik Mulai Masa Pertobatan

KRAKATAU.ID, LAMPUNG SELATAN -- Hari ini, Rabu 5 Maret 2025, umat Katolik di seluruh dunia memulai masa pertobatan Prapaskah dengan menjalankan puasa dan pantang selama 40 hari ke depan. Puncak dari awal masa pertobatan ini ditandai dengan upacara pembubuhan abu di dahi, sebagai simbol pengakuan akan kelemahan dan kebutuhan untuk bertobat.

Di Gereja Santa Lidwina, Stasi Suka Bandung, Paroki St. Yohanes Rasul Kedaton, Keuskupan Tanjungkarang, RD Philipus Suroyo memimpin misa Rabu Abu. Ratusan umat mengikuti misa di gereja katolik yang terletak di Desa Rulung Sari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan ini.

Dalam homilinya, yang disampaikan oleh Romo Roy, mengingatkan umat untuk melihat Rabu Abu sebagai kesempatan besar untuk bertobat.

“Rabu Abu adalah waktu yang penuh kesempatan untuk bertobat. Kita memulai perjalanan pertobatan ini dengan menerima abu di dahi,” ujar Romo Roy.

“Romo juga harus bertobat, tidak hanya umat. Ini adalah wujud pertobatan kita, tanda bahwa kita menyadari diri sebagai manusia yang rapuh,” imbuhnya.

Romo Roy menjelaskan bahwa puasa dan pantang selama masa Prapaskah bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan, tetapi juga merupakan langkah untuk mendalami nilai-nilai pertobatan.

Menurutnya puasa diartikan sebagai makan kenyang sekali dalam sehari, dengan aturan berlaku bagi umat berusia 18 hingga 60 tahun. Sedangkan pantang, selain menghindari makanan kesukaan, juga bisa berupa penghindaran kebiasaan atau tindakan yang tidak mendukung spiritualitas, seperti merokok atau berbicara buruk tentang orang lain.

“Berpantang dan berpuasa bukanlah untuk prestise, tetapi untuk pertobatan sejati. Beramal dengan tulus, tanpa pamer, adalah bentuk penghormatan kepada Allah,” tambah Romo Roy.

Selain itu, Romo Roy juga mengajak umat untuk lebih peduli pada sesama selama masa Prapaskah ini.

“Hati kita harus semakin terbuka dan murah hati, agar Allah pun semakin murah hati kepada kita,” ujarnya.

Selama 40 hari ke depan, umat Katolik diajak untuk merefleksikan diri, berbalik menuju jalan yang benar, dan menjalani “retret agung”.

“Mari kita semakin saleh, baik dalam kehidupan spiritual maupun sosial. Kesalehan harus membuahkan perbuatan nyata untuk menolong sesama,” tutupnya.

Semoga masa Prapaskah ini menjadi waktu yang penuh kedamaian dan pertobatan bagi seluruh umat Katolik di dunia.