KRAKATAU.ID, BANDARLAMPUNG — Dalam kehidupan, ada momen-momen ketika segalanya terasa gelap. Seperti berdiri di ujung jalan yang buntu, tak ada tanda, tak ada cahaya, tak ada janji bahwa langkah selanjutnya akan membawa perubahan. Di titik itu, manusia secara logika menyerah. Tak ada lagi alasan untuk berharap. Tapi justru di titik inilah — di zona di mana secara manusiawi tak ada lagi yang bisa diharapkan — iman mulai bekerja.
Romo Roy, Ketua Rumpun Kemasyarakatan Keuskupan Tanjungkarang, menggambarkan ini sebagai “zona misteri”, tempat di mana orang beriman berani masuk, sementara yang lain memilih mundur. Bagi dunia, harapan itu tidak masuk akal. Tapi bagi orang yang percaya, Tuhan bisa membuat yang mustahil menjadi mungkin.
“Orang lain menganggap ini gak mungkin, tapi kita masih tetap memiliki harapan,” ujar Romo Roy dengan tenang namun penuh keyakinan, saat dijumpai Krakatau.id di Bandarlampung, Rabu (25/6/2025) petang.
Ia mengajak kita untuk melihat bahwa hidup bukan hanya tentang logika manusia. Iman bukanlah ilusi, tetapi pilihan untuk percaya meski tanpa kepastian. Karena keyakinan bukan berarti tidak takut, tapi tetap melangkah meski tidak tahu ke mana kaki akan mendarat.
Salib: Antara Derita dan Penebusan
Romo Roy memberi gambaran yang mendalam tentang salib. Bukan hanya benda, bukan pula sekadar simbol, tetapi realitas hidup yang tak kita pilih, namun harus kita pikul.
Salib itu bisa hadir dalam bentuk kehilangan, perpisahan, pengkhianatan, atau penderitaan yang datang tiba-tiba. Seperti ketika dua orang saling mencintai dan berkomitmen, namun takdir memisahkan mereka tanpa alasan yang bisa dipahami. Secara manusiawi, harapan sudah habis. Tapi bagi orang beriman, salib itu bukan akhir, tapi jalan menuju penebusan.
Namun Romo mengingatkan dengan bijak, tidak semua penderitaan adalah salib. Bila derita datang karena kesalahan kita sendiri — mencuri, menipu, menyakiti — itu bukan salib yang dikirim Tuhan. Tapi, bila dari kesalahan itu kita bertobat dan mengubah jalan hidup, maka penderitaan itu bisa menjadi jalan salib yang menebus.
“Kalau orang beriman, dia tidak pakai logika manusia, tapi logika Allah.”
Logika Allah tidak selalu bisa dimengerti. Ia membiarkan salib terjadi dalam hidup Yesus, tapi juga mengubah kematian menjadi kehidupan, luka menjadi kemuliaan, dan salib menjadi kemenangan.
Harapan Itu Masih Ada
Jadi bila hari ini kamu sedang berada di titik kehilangan harapan, ingatlah: kamu sedang berada di zona misteri. Jangan takut. Jangan menyerah. Justru di situlah Tuhan bekerja paling dalam. Berani masuk ke dalamnya, adalah tanda kamu bukan berjalan sendirian. Kamu berjalan bersama Dia yang pernah memikul salib — dan mengalahkan maut.
Karena bagi orang beriman, roda itu bisa dibalik. Yang tidak mungkin menjadi mungkin. Yang hancur bisa dipulihkan. Yang hilang bisa kembali. Bila Tuhan menghendaki, tidak ada yang terlalu terlambat. Tidak ada yang terlalu rusak untuk diselamatkan.
Dan untuk itulah kita percaya, meski belum melihat. Kita berharap, meski belum tahu. Kita mencintai, meski belum memiliki.
Karena iman adalah keberanian untuk tetap berharap — justru ketika tak ada alasan lagi untuk berharap.***






