Oceanman Jadi Inspirasi, Napoli Ingin Lampung Tuan Rumah Lomba Renang Dunia

KRAKATAU.ID, PESAWARAN — Bagi Ir. Napoli Situmorang, M.T., M.H., tantangan bukan untuk ditaklukkan semata, melainkan dijadikan pelajaran. Ketua Komunitas Perenang Antar Pulau Lampung (KPAPL) ini baru saja mencetak pengalaman istimewa sebagai satu-satunya peserta asal Lampung yang mengikuti kejuaraan renang perairan terbuka internasional Oceanman di Kota Kinabalu, Malaysia, Minggu, 20 Juli 2025 lalu.

Bertempat di Pantai Dalit, Tuaran, Oceanman Kinabalu tahun ini mencatat sejarah sebagai ajang internasional bergengsi dengan peserta terbanyak — 592 perenang dari 39 negara, meningkat hampir dua kali lipat dari edisi pertamanya. Napoli, yang turun di nomor 5 kilometer, menuntaskan lomba dalam waktu tiga jam, menantang panas ekstrem dan ombak besar.

“Saya bukan sekadar ingin jadi juara. Saya ikut ini untuk belajar bagaimana menyelenggarakan event internasional seperti Oceanman. Saya membayangkan, kenapa di Lampung tidak bisa seperti ini? Kita punya laut, punya resort, ada Hotel Marriott, fasilitas lengkap,” ujar Napoli antusias saat ditemui Krakatau.id, di Pantai Mutun, Pesawaran, Kamis pagi (31/7/2025)..

Pengalamannya di Kinabalu membuka mata Napoli tentang besarnya potensi ekonomi dari wisata olahraga. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kerja sama antara panitia dan Shangri-La Resort bisa mendatangkan peserta dari berbagai penjuru dunia — dari Afrika, Eropa, hingga Asia — hanya untuk ikut lomba renang di laut terbuka.

“Bayangkan, berapa banyak devisa yang masuk ke daerah? Mereka datang, menginap, makan, belanja. Ini bukan hanya soal lomba, tapi soal bagaimana membangun ekosistem,” jelasnya.

Ia menyebut Lampung sebagai daerah yang sangat potensial untuk menggelar ajang serupa. Dari sisi alam, laut yang tenang dan aman bisa menjadi daya tarik tersendiri. Dari sisi infrastruktur, Lampung memiliki hotel dan akses yang mendukung. Dan dari sisi semangat, Napoli sudah membuktikan sendiri bahwa masyarakat Indonesia bisa bersaing di ajang internasional — dan belajar dari sana.

“Saya akan bawa ini ke pemerintah daerah, saya akan dorong agar kita bisa menggelar Oceanman atau kejuaraan sejenis di Lampung. Saya bicara soal dampak besar untuk ekonomi lokal dan pariwisata,” tambahnya.

Ketua Komunitas Perenang Antar Pulau Lampung (KPAPL), Ir. Napoli Situmorang, M.T., M.H.

Bagi Napoli, menyelesaikan rute 5 kilometer di lautan lepas bukan sekadar pencapaian fisik. Ia menegaskan bahwa yang lebih penting adalah mengalahkan rasa takut dan dorongan untuk menyerah.

“Panasnya luar biasa, ombak besar. Tapi yang menjadi tantangan itu justru diri kita sendiri. Jangan nyerah, jangan nyerah. Gimana caranya supaya bisa sampai finish,” tuturnya.

Oceanman, kata Napoli, bukan sekadar lomba — tapi ajang inklusif yang menerima semua kalangan. Pesertanya mulai dari usia 7 tahun hingga 70 tahun, bahkan menyediakan kategori khusus untuk perenang penyandang disabilitas.

“Itu yang luar biasa. Semangatnya inklusif, menginspirasi semua orang bahwa renang di laut terbuka bukan hanya milik atlet profesional,” ungkapnya.

Sepulang dari Kinabalu, Napoli tak tinggal diam. Ia berencana menggelar lomba open water lokal di Lampung sebagai langkah awal. Lokasi yang disasar: perairan tenang dengan panorama indah, yang dapat menjadi ajang uji coba sekaligus promosi.

“Kita punya laut yang tenang, gelombangnya bagus, bisa seperti di Krui. Ini bisa jadi event tahunan, bahkan internasional,” katanya dengan semangat.

Dengan tekad kuat dan visi ke depan, Napoli membuktikan bahwa belajar bisa dari mana saja — bahkan dari derasnya ombak di negeri seberang. Dan dari sana, sebuah harapan besar lahir: membawa Lampung ke panggung olahraga dunia lewat laut dan semangatnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *