KRAKATAU.ID, PESAWARAN — Di tengah rimba yang diam dan lebat, tersembunyi sebuah rahasia alam yang meneteskan sunyi dari langit—Air Terjun Sendang Sari, sebuah nama yang seakan disulam dari puisi dan doa.
Berlokasi di Dusun Talang Tengah, Desa Way Sabu, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, air terjun ini seolah bersembunyi di pelukan rimbun Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman, jauh dari dengung kendaraan, jauh dari keramaian kota, dan lebih jauh lagi dari kerusakan tangan manusia.
Untuk menemuinya, seseorang harus mengurbankan kenyamanan. Dari Kota Bandarlampung, perjalanan mengarah ke Pantai Kelapa Rapat—lebih akrab disebut Klara—hingga sampai di Yonif 9/Beruang Hitam, pos militer yang menjadi penanda gerbang sunyi. Di titik inilah petualangan dimulai. Sebuah jalan kecil menyelinap ke kanan sebelum jembatan sungai, lalu mengular melewati irigasi yang bersenandung lirih, melintasi kebun kakao yang menyimpan aroma pahit-manis tanah pesisir.
Jalan itu bukan milik sembarang roda. Ia hanya tunduk pada motor-motor dengan jiwa petualang, berkarakter kuat dan setia. Waktu tempuhnya? Setengah hingga satu setengah jam, atau lebih, tergantung seberapa sabar sang pengendara menari di atas bebatuan dan lumpur.
Namun ujung perjalanan itu bukan sekadar tempat, melainkan pengalaman yang mengendap dalam jiwa. Saat motor tak bisa melaju lebih jauh, sebuah perkampungan mungil menyambut dengan kesederhanaan yang hangat. Di sana, beberapa rumah berdiri bersahaja, dan di antara mereka ada sebuah gubuk milik Pujianto—atau yang lebih akrab disapa Pakde To, sang penjaga sunyi.
“Curub ini, belum banyak yang tahu,” ujarnya pelan, seolah takut membangunkan hutan yang sedang tertidur.
“Mungkin karena jalannya, atau karena orang lebih kenal Lubuk Lau. Padahal Sendang Sari ini, lebih dari sekadar air jatuh. Ini tempat yang menyimpan jiwa,” kata Pakde To saat dijumpai Krakatau.id, di lokasi air terjun pada Sabtu (12/4/2025).
Dari gubuk Pakde To, hanya sepuluh menit berjalan kaki. Namun langkah itu bukan sekadar langkah. Ia adalah upacara kecil menuju alam yang belum terjamah. Setiap detik perjalanan adalah persembahan—angin yang menggamit rambut, dedaunan yang berbisik lembut, dan suara burung yang menjadi petunjuk arah dalam sunyi.
Dan lalu, ia muncul. Sendang Sari. Sebuah curahan suci setinggi dua puluh lima meter, jatuh dari tebing yang lumutnya bersajak tentang waktu. Ia bukan air terjun yang berisik. Ia tenang, seperti sedang menangis dalam diam. Di bawahnya, kolam alami terbentuk—jernih, dalam, dan misterius.
“Dulu saya nebang bambu, tujuh meter saya masukin, belum nyampe dasar,” kenang Pakde To, matanya menatap air seakan menatap masa muda yang pernah ia tenggelamkan di sana.
Ia melarang wisatawan untuk berenang. Bukan karena tak ingin berbagi, tetapi karena ia tahu, bahwa ada kedalaman yang tak layak ditantang sembarangan.***





