KRAKATAU.ID, PESAWARAN — Mentari belum terlalu tinggi saat tiga remaja dari Dusun Sinar Tiga, Desa Harapan Jaya, Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran, mengayuh sepeda motor menembus jalan setapak berbatu menuju kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman. Tujuan mereka bukan sekadar berwisata — mereka ingin menantang diri mereka sendiri, menguji nyali di salah satu kolam alami terdalam di Lampung: Air Terjun Sendang Sari. Air terjun yang juga dinamakan warga sekitar Talang Kepayang ini berada di Dusun Talang Tengah, Desa Way Sabu, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran,
Hari itu, Sabtu, 12 April 2025, bagi Eko, Bajang, dan Galih bukan sekadar akhir pekan biasa. Mereka sudah lama mendengar cerita tentang kedung (kubangan) di bawah air terjun Sendang Sari — yang konon memiliki kedalaman tak terukur. Legenda lokal menyebut, bahkan batang bambu sepanjang belasan meter yang ditebang Pak To, warga Dusun Talang Tengah, Desa Way Sabu, tak mampu menyentuh dasar kolam tersebut.
“Mental Baja” dan Adrenalin
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, suara gemuruh air terjun mulai terdengar, menggema di antara pepohonan rindang. Air jatuh bebas dari tebing tinggi 25 meter, menciptakan percikan dan kabut air yang menyegarkan wajah. Di bawahnya, terbentuk kolam alam berair hijau toska — tenang di permukaan, namun menyimpan misteri di kedalamannya.
“Mandi di Air Terjun Sendang Sari, tantangannya terlalu dalem, Gusy… kubangannya adrenalin,” celetuk Bajang sambil melompat dari batu besar ke dalam air.
Tak lama berselang, Eko, yang dikenal di kampung sebagai si pemberani, bersiap di tebing kecil di sisi air terjun.
“Saya mentalnya mental baja, Pak. Kalau kalian ingin menguji adrenalin, sini aja. Itu kedalamannya sekitar 10 meteran lebih. Saya aja tadi lompat dari atas belum nyampe ke dasar. Mantab!,” serunya, separuh serius, separuh menantang.
Galih, yang lebih pendiam, hanya tersenyum kecut sambil membenahi kacamata renangnya.
“Berenang di sini ngeri-ngeri sedap, Guss,” katanya pelan, namun tak ragu ikut terjun ke dalam kedung yang sunyi.

Pesona Liar Alam Sendang Sari
Air Terjun Sendang Sari, atau yang juga dikenal sebagai Talang Kepayang oleh warga sekitar, adalah surga tersembunyi di jantung Tahura Wan Abdul Rachman. Belum banyak terjamah wisatawan, tempat ini menawarkan panorama alam yang asri: dinding batu berlumut, pepohonan tua yang menaungi jalan setapak, serta udara segar yang sulit didapat di kota.
Namun daya tarik utamanya adalah kedungnya — sebuah kolam alami yang terbentuk selama ribuan tahun oleh hantaman air terjun. Warga sekitar masih menyimpan rasa takjub, bahkan sedikit takut, terhadap kedalamannya.
“Saya pernah ukur pakai batang bambu yang panjang. Tapi dasar kedungnya masih belum nyampe juga,” cerita Pak To kepada Krakatau.id, matanya menerawang ke arah air terjun seolah masih mencari dasar yang belum pernah terlihat itu.
Lebih dari Sekadar Main Air
Bagi Eko, Bajang, dan Galih, perjalanan ini bukan hanya tentang berenang. Ini tentang keberanian, persahabatan, dan pengalaman yang akan mereka ceritakan berulang kali saat malam tiba di warung kopi dusun. Tentang bagaimana mereka, tiga anak kampung, menaklukkan rasa takut — atau setidaknya menghadapinya.
Ketika matahari mulai bergeser ke barat dan bayangan pepohonan memanjang di permukaan air, mereka keluar dari kedung dengan tubuh menggigil dan senyum lebar. Basah kuyup, lelah, namun puas.
“Besok ke sini lagi, kan?” tanya Galih sambil menepuk bahu Eko dan Bajang.
Eko dan Bajang hanya tertawa. “Tentu, tapi bawa bambu lebih panjang. Siapa tahu bisa nyentuh dasar.”***





