KRAKATAU.ID, LAMPUNG BARAT – Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang, Yuli Nugrahani, menyoroti masalah sampah yang mencemari Gunung Seminung, Lampung Barat.
Yuli, yang baru saja mendaki gunung setinggi 1.863 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada 1-2 November 2024 dalam rangka acara “51 Tahun Radio Suara Wajar Goes To Seminung Mountain”, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi kebersihan di gunung tersebut.
Dalam wawancara khusus dengan Krakatau.id pada Selasa (12/11/2024), Yuli menyatakan bahwa kesadaran masyarakat terhadap sampah, terutama yang dihasilkan oleh para pendaki, masih sangat rendah.
“Selalu, orang tak punya kepekaan akan sampah bahkan sampah yang dihasilkan oleh dirinya sendiri. Di mana pun itu, kesadaran untuk meminimalkan sampah harus terus dibangun, dikembangkan dan dibagikan,” ujar Yuli.
Menurutnya, Gunung Seminung yang terkenal dengan keindahan alamnya seharusnya menjadi tempat yang terjaga kebersihannya. Namun, kenyataannya justru ada tumpukan sampah di puncak gunung dan sampah yang berserakan di jalur pendakian.
“Apalagi untuk tempat seindah Gunung Seminung yang didatangi oleh banyak orang yang menyebut diri pendaki gunung atau pecinta gunung, tak semestinya hadir di sana malah menyumbangkan sampah,” kata Yuli dengan nada kecewa.
Yuli menambahkan, melihat tumpukan sampah yang ada di puncak gunung dan sepanjang jalur pendakian, ia merasa sangat prihatin.
“Melihat tumpukan sampah di puncak Gunung Seminung, juga yang terserak di jalur pendakian, itu sangat menyedihkan, memprihatinkan. Minimal jika tak bisa ikut membersihkan sampah yang sudah terlanjur numpuk, ya jangan menambahi dengan sampah yang kita bawa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap pendaki harus bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka bawa.
“Setiap orang yang tak mau bertanggungjawab atas sampah yang dihasilkannya dari makanan atau minuman atau kebutuhan lain, semestinya tak usah naik Gunung Seminung yang indah itu dan merusaknya dengan tindakan tak pantas,” tegas Yuli.
Menurut Yuli, meskipun ada pembersihan sampah yang dilakukan secara periodik oleh petugas, itu bukan alasan bagi pendaki untuk membuang sampah sembarangan.
“Konon di Gunung Seminung dilakukan pembersihan sampah secara periodik oleh petugas yang entah bagaimana diatur. Sekali pun begitu, itu bukan alasan kita yang naik ke sana boleh seenaknya meninggalkan sampah dan mencemari lingkungan Seminung,” ujar Yuli.
Yuli juga menyarankan agar pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini, seperti penerapan peraturan daerah (perda) terkait kebersihan di gunung.
“Peringatan atau sanksi atau denda bagi pendaki yang membuang sampah sembarangan kayaknya perlu dibuat deh. Teknisnya bisa dengan mendaftar barang yang dibawa dan mendaftar sampah yang dibawa turun. Jika tak sesuai, kena denda,” ungkapnya.
Dengan mengusulkan adanya regulasi yang lebih tegas, Yuli berharap dapat meningkatkan kesadaran para pendaki untuk bertanggung jawab atas sampah mereka dan menjaga keindahan alam Gunung Seminung. Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang mendukung kebersihan di area wisata alam ini.
Pernyataan Yuli ini menjadi pengingat bagi seluruh pendaki dan masyarakat umum untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian alam, terutama di lokasi-lokasi wisata yang sering dikunjungi, seperti Gunung Seminung.***












