Menembus Kabut Misteri di Puncak Leher Kambing: Kisah Petualangan Bocil-Bocil Sinar Tiga

KRAKATAU.ID, PESAWARAN — Malam semakin pekat saat rombongan kecil kami dari Komunitas Pendaki Gunung Bocil-Bocil Sinar Tiga meninggalkan Dusun Sinar Tiga, Desa Harapan Jaya, Kecamatan Way Ratai, Pesawaran, pada Sabtu malam, 31 Agustus 2024. Dengan langkah penuh semangat dan sedikit rasa penasaran, kami melangkah menuju destinasi kami, Puncak Leher Kambing, sebuah titik puncak misterius yang jarang dijamah pendaki.

Leher Kambing, yang terletak di Pegunungan Pesawaran, adalah salah satu dari sekian banyak puncak yang belum dikenal luas. Ketinggiannya mencapai sekitar 1.500 mdpl dan berseberangan dengan puncak utama Gunung Pesawaran, Puncak Tugu. Namun, bagi kami, bocil-bocil dengan semangat eksplorasi, petualangan kali ini terasa istimewa.

Bersama kami, ada sang juru kunci Sukma Ilang, Mbah Basrowi, yang memimpin perjalanan ini. Rombongan kami terdiri dari enam orang, di antaranya para bocil : Galih, Gilang, Lita, dan Bajang—keempat siap menghadapi tantangan. Di hari Minggu, 1 September 2024, Mbah Bas dan cucunya Lita bergabung dengan kami di tengah perjalanan.

Pendakian kami dimulai dengan harapan, namun segera disertai dengan kejadian aneh. Setelah menemukan jalur pendakian yang samar dan melintasi sungai rimba, kami mendengar suara perempuan misterius yang membuntuti kami.

Suara itu seolah meminta pertolongan, tetapi ketika kami memanggil balik, tidak ada balasan. Galih, salah satu bocil, mencatat peristiwa ini sebagai pengalaman pertama mendengar suara yang bukan dari manusia.

“Kita mendengar suara, kirain kami suara Mbah Bas, karena kami janjian bertemu di atas. Tapi setelah kami jawab, enggak ke sini-sini. Dan keputusannya kita jalan terus, dan kita mencari sumber suaranya,” kata Galih kepada Krakatau.id, Minggu (1/9/2024).

Gilang, pendaki lain, tak tahan untuk tidak berkomentar setelah suara misterius itu terus mengikuti kami. “Tadi jam 3 di atas, suara itu memanggil. Tidak ada orangnya. Saat kami berhenti di sungai untuk mengambil air, suara itu datang lagi. Ini pukul 16.30 WIB. Inilah misteri alam,” jelas Gilang.

Saat perjalanan menuju puncak, suara misterius itu masih mengiringi langkah kami, namun kami memilih untuk mengabaikannya dan fokus pada tujuan kami. Mbah Bas sendiri tidak banyak berbicara mengenai suara tersebut, seolah dia sudah terbiasa dengan hal-hal gaib dalam perjalanan seperti ini.

Akhirnya, kami sampai di Puncak Leher Kambing, meskipun tidak ada air di dalam gua yang pernah dijumpai Mbah Bas sekitar 40 tahun lalu. Gua yang dianggap sebagai sumur oleh banyak orang itu sebenarnya terhubung dengan Air Merah, sebuah sungai purba yang memiliki air berwarna merah. Mbah Bas tampak kecewa karena keadaannya telah berubah drastis.

Setelah menikmati puncak dan menghabiskan sisa bekal, kami memulai perjalanan turun. Suara perempuan misterius itu lenyap begitu kami keluar dari pintu rimba menjelang magrib. Mbah Bas mengungkapkan bahwa perjalanan kali ini adalah napak tilas menuju gua misterius yang menyimpan berbagai cerita.

Sekitar dua jam kemudian, kami tiba kembali di Dusun Sinar Tiga, merasa puas meski dengan sedikit kelelahan. Petualangan ini mengajarkan kami bahwa di setiap pendakian, ada cerita dan misteri yang siap menguji keberanian dan imajinasi kita. Seperti kata Bajang, “Inilah misteri alam yang tak selalu bisa dijelaskan, tapi selalu meninggalkan kesan mendalam.”

Di balik kabut dan suara misterius yang membuntuti kami, Puncak Leher Kambing tetap berdiri megah, menyimpan rahasia dan keindahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang berani menembus batas.***