KRAKATAU.ID, PALEMBANG – Bukit Siguntang merupakan salah satu situs sejarah sekaligus kawasan religi yang hingga kini masih dijaga kelestariannya di tengah Kota Palembang. Bukit ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah Kerajaan Sriwijaya, tetapi juga menjadi tempat ziarah lintas agama.
Sulaiman (52), juru kunci kawasan Cagar Budaya Bukit Siguntang, menjelaskan bahwa nama Bukit Siguntang berasal dari bahasa Palembang.
“Bukit Siguntang, nama ini diambil dari bahasa bukit yang terombang-ambing atau terapung atau pulau yang pertama timbul. Dalam bahasa Palembang disebut bukit yang terguntang-guntang,” ujarnya saat ditemui Krakatau.id, 8 Januari 2026.
Menurut Sulaiman, secara geologis bukit ini diperkirakan sudah ada sejak sebelum masehi. Namun, makam-makam yang ada di kawasan tersebut baru diperkirakan berasal dari tahun 1415. “Kalau bukitnya sudah dari sebelum masehi. Luasnya sekitar 14 hektare,” jelasnya.
Bukit Siguntang sejak dahulu dianggap sebagai tempat suci oleh berbagai umat beragama. Hal ini dibuktikan dengan beragam aktivitas keagamaan yang rutin dilakukan di kawasan tersebut.
“Yang ziarah ke sini bukan hanya umat Islam, tapi juga Hindu, Buddha, Konghucu, bahkan agama kepercayaan,” kata Sulaiman.
“Untuk umat Buddha, perayaan Waisak rutin digelar setiap bulan Mei dan diikuti sekitar 1.500 jemaah. Para biksu datang dari berbagai negara seperti Tibet, Thailand, Kamboja, Tiongkok, serta dari Palembang,” kata dia.
“Sementara itu, umat Hindu kerap menggelar kirab keagamaan yang dimulai dari Bukit Siguntang dan berakhir kembali di lokasi yang sama. Umat Islam juga banyak melakukan ziarah kubro, terutama menjelang bulan Ramadan, yang diikuti ribuan jemaah dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Sedangkan umat Konghucu biasanya datang saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh,” ungkapnya.
“Di sini banyak ziarah, jadi Bukit Siguntang itu dianggap tempat suci oleh seluruh umat beragama,” tegas Sulaiman.

Bukit Siguntang sendiri merupakan salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Hingga kini, kawasan ini masih terawat dan dikelola oleh pemerintah setempat sebagai objek wisata sejarah dan religi.
Secara geografis, Bukit Siguntang merupakan kawasan perbukitan di tengah Kota Palembang dengan ketinggian puncak sekitar 29–30 meter di atas permukaan laut. Lokasinya berada di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang.
Berdasarkan data dari situs resmi Dinas Pariwisata Kota Palembang, terdapat tujuh makam yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh Kerajaan Sriwijaya, yaitu Makam Raja Sigentar Alam, Pangeran Raja Batu Api, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima Tuan Junjungan, Panglima Bagus Kuning, dan Panglima Bagus Karang. Makam-makam tersebut hingga kini masih sering diziarahi wisatawan.
Selain makam, Bukit Siguntang juga menyimpan sejumlah arca peninggalan Sriwijaya, di antaranya Arca Wairocana, Arca Jambhala, Arca Sakhyamuni, Arca Bodhisattwa, serta patung Buddha berciri khas Amarawati dengan tinggi mencapai 3,6 meter.
Kawasan ini juga menawarkan suasana yang asri dengan pepohonan rindang, gazebo untuk bersantai, air mancur, serta bangunan kecil penjaga makam. Dari puncak bukit, pengunjung dapat menikmati panorama Kota Palembang. Tak jarang, Bukit Siguntang juga dijadikan lokasi foto, termasuk untuk foto prapernikahan.
Bukit Siguntang dibuka untuk umum setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB dengan tarif masuk Rp3.000 untuk anak-anak dan Rp5.000 untuk orang dewasa. Lokasinya berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Palembang dan dapat ditempuh sekitar 15 menit dari Jembatan Ampera melalui Jalan Merdeka.***












