KRAKATAU.ID, LAMPUNG BARAT – Di antara rimbunnya hutan dan dinginnya udara pegunungan, Gunung Pesagi kembali menggoreskan kisah yang tak biasa. Bukan hanya tentang duka atas berpulangnya seorang pendaki, tetapi juga tentang sebuah pengalaman spiritual yang membekas dalam benak tim evakuasi. Harum bunga melati—bukan bau busuk seperti lazimnya jenazah—mengiringi perjalanan turun dari puncak tertinggi di Bumi Sekala Brak.
Kamis sore, 15 Mei 2025, cuaca masih bersahabat ketika Farishan Saputra, anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Barat, bersama tim gabungan tiba di titik awal pendakian Gunung Pesagi jalur Pekon Bahway. Ini adalah pengalaman pertamanya menjejakkan kaki di “atapnya Lampung”. Namun ia tidak pernah menyangka, pengalaman itu akan menjadi perjalanan batin yang sulit ia lupakan.
“Perjalanan dari titik awal ke lokasi kejadian butuh sekitar dua jam jalan kaki. Saat itu cuaca cerah, langit agak berawan, tapi tidak ada tanda-tanda akan hujan,” kata Farishan, yang akrab disapa Faris saat menceritakan pengalamannya pada Krakatau.id, Selsa (20/5/2025).
Jenazah korban ditemukan di jalur pendakian, dalam posisi telah meninggal dunia. Setelah proses identifikasi dan olah tempat kejadian oleh aparat kepolisian, evakuasi dimulai sekitar pukul 18.30 WIB.
Namun sesuatu yang tidak biasa terjadi sepanjang perjalanan turun. Aroma bunga melati tercium kuat—bukan sesekali, tapi terus-menerus, dari lokasi ditemukannya jenazah hingga tiba di Pos Pendakian.
“Nah, sepanjang perjalanan itu memang benar, bahwa jenazah itu harum, harum bunga melati. Saat itu masih belum turun hujan. Tapi menjelang pukul 19.00 WIB, hujan mulai turun, dan aroma itu malah semakin semerbak. Bukan bau busuk, malah sejuk rasanya,” tutur Faris pelan.
Hal serupa juga dirasakan oleh Selamet, Koordinator Pos Pendakian Gunung Pesagi jalur Bahway, yang ikut dalam proses evakuasi malam itu. Ia menyebut kejadian ini sebagai salah satu pengalaman paling aneh namun menggetarkan dalam hidupnya.
“Kalau firasat sih enggak ada. Tapi waktu itu, sepanjang manggul jenazah, suasananya… lain. Enggak ada gangguan, tapi itu baunya harum, enggak seperti mayat pada umumnya,” ucap Selamet seperti dikutip dari Krakatoa.id.
Misteri Aroma Harum
Dalam dunia medis dan kebencanaan, evakuasi jenazah dari lokasi yang sulit dijangkau biasanya menjadi tantangan fisik dan mental. Apalagi, dalam suhu dingin dan waktu yang panjang, jenazah umumnya akan mengeluarkan aroma khas yang tak sedap.
Namun, kejadian ini justru menampilkan hal sebaliknya. Bukannya amis atau busuk, tubuh almarhum justru memancarkan wangi yang kerap diasosiasikan dengan kesucian dan spiritualitas dalam tradisi banyak masyarakat di Indonesia.
“Bayangannya masih terasa… seolah belum sepenuhnya pergi,” ucap Selamet dengan suara pelan.
Ia percaya, mungkin saja sang pendaki adalah orang baik. Ia juga tak menutup kemungkinan bahwa ini adalah bagian dari misteri Gunung Pesagi—gunung yang dikenal keramat oleh masyarakat adat setempat.
Gunung Pesagi dan Aura Mistisnya
Sebagai titik tertinggi di Provinsi Lampung dengan ketinggian lebih dari 2.200 meter di atas permukaan laut, Gunung Pesagi bukan hanya destinasi para pencinta alam, tapi juga tempat yang diselimuti banyak kisah spiritual. Dalam kepercayaan lokal masyarakat Lampung Saibatin dan Pepadun, gunung ini diyakini sebagai tempat bermukimnya para leluhur dan roh-roh penjaga alam.
Kisah tentang aroma harum dari jenazah bukan pertama kalinya terdengar dari kawasan-kawasan keramat semacam ini. Dalam banyak literatur spiritual, aroma seperti melati atau cendana sering dikaitkan dengan “kematian yang baik” atau tanda kesucian jiwa.
Namun apakah ini fenomena alam biasa, efek sugesti psikologis, atau benar-benar pertanda spiritual? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti.
Bagi Faris dan Selamet, yang jelas mereka telah menjadi saksi dari pengalaman yang tak bisa dijelaskan oleh logika.
“Yang kami rasakan malam itu bukan takut. Tapi justru tenang,” kata Faris menutup ceritanya.
Gunung Pesagi, malam itu, bukan sekadar saksi bisu dari kematian. Ia menjadi panggung dari sebuah misteri yang mempertemukan duka dan kedamaian—lewat harum bunga melati yang tak akan pernah mereka lupakan.***











