Gua yang Tak Dijamah, Kini Bernyawa dalam Langkah Bocil Sinar Tiga

KRAKATAU.ID, PESAWARAN — Di negeri yang hidup dengan legenda, kadang kebenaran terselip dalam kata “katanya”. Seperti dongeng yang terlalu lama dibisikkan dari mulut ke mulut, mitos itu mengendap di balik dedaunan dan desir air.

Air terjun Sendang Sari, yang mengalir dari tebing di Dusun Talang Tengah, Desa Way Sabu, Kabupaten Pesawaran, bukan hanya membasahi batu dan lumut, tetapi juga membasuh kisah tentang ular raksasa sebesar batang kelapa yang konon bersarang di balik gua-gua sunyi di sekitarnya.

Namun, keberanian kadang datang dari jiwa-jiwa muda yang belum kenal lelah takut. Empat remaja dari Dusun Sinar Tiga—Eko, Bajang, Ferdi, dan Galih—memilih jalur berbeda. Mereka tidak menutup telinga dari cerita lama, tetapi juga tidak begitu saja percaya. Maka dimulailah langkah mereka, di bawah langit Kamis, 1 Mei 2025, menjelajah belantara, menjangkau sisi-sisi tersembunyi air terjun yang selama ini hanya ditatap dari kejauhan.

Dikenal sebagai Bocil-Bocil Sinar Tiga, empat sekawan ini menapaki akar dan tebing, mengendus arah angin, dan mendaki sisi kanan atas air terjun Sendang Sari. Tak ada peta, hanya nyali dan cerita rakyat sebagai kompas. Di sanalah mereka menemukan tiga mulut gua, terbuka seperti rahasia yang ingin dijaga.

Salah satu gua, yang hanya bisa dicapai dengan bantuan akar pohon yang menggantung, adalah temuan paling menggetarkan. Letaknya di atas air terjun, seperti disembunyikan oleh alam sendiri. Gua itu berbentuk huruf T—sebuah celah di perut bumi dengan panjang empat meter dan lebar satu meter. Ketika Eko menuruni gua dengan hati-hati, akar itu seperti tangan Tuhan, menggantung dan menuntunnya masuk ke dunia yang belum tersentuh kaki manusia.

“Air menetes dari akar. Suaranya seperti bisikan, seperti sesuatu yang ingin kami dengar,” ujar Putra yang lebih dikenal dengan panggilan Bajang ini.

“Kami seperti tamu yang diterima oleh alam,” imbuhnya matanya berbinar saat berada di dalam gua ini, Kamis (1/5/2025).

Bocil Bocil Sinar Tiga : (dari kiri atas) Eko, Ferdi dan Bajang. (Bawah) – Galih.

Dua gua lainnya pun mereka telusuri. Satu berada persis di bawah air terjun, lebih luas, namun menyengat baunya—seperti tempat persembunyian makhluk-makhluk malam. Ferdi, dengan napas tertahan, menyaksikan puluhan kelelawar bergelantungan di langit-langit gua.

“Banyak banget. Kayak langit malam yang hidup,” katanya pelan, masih terguncang oleh aroma tajam dan bayang-bayang sayap.

Gua ketiga lebih tinggi mulutnya namun tak sedalam yang pertama. Di atasnya, kelelawar kembali menyambut, kali ini lebih besar, lebih pekat kegelapannya.

Namun, bukan gua atau kelelawar yang paling meninggalkan kesan di hati mereka. Melainkan sensasi menaklukkan rasa takut, berjalan menembus cerita yang selama ini hanya berakhir di ujung “katanya”.

“Kami bisa bilang bahwa kami yang pertama masuk ke gua atas itu. Gua yang dijaga akar, yang tak terjamah sebelumnya,” kata Eko, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya.

“Dan yang lebih penting, kami membuktikan bahwa mitos bisa disentuh, bahkan jika belum sepenuhnya bisa dijelaskan,” ungkap Galih.

Gua yang mereka temukan berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman—sebuah wilayah yang kerap diliputi kabut dan misteri, kini menjadi saksi bagi empat jiwa muda yang menolak diam di balik cerita.

Mereka bukan pemburu legenda. Mereka adalah pewarta masa depan, dengan kaki di bumi dan mimpi di langit. Mungkin ular itu ada, mungkin tidak. Tapi satu hal pasti: keberanian mereka telah mengukir satu cerita baru di jantung hutan Pesawaran.***