KRAKATAU.ID, BANDAR LAMPUNG -– Perekonomian Provinsi Lampung menunjukkan performa yang solid pada Triwulan II-2025, dengan pertumbuhan mencapai 5,09% secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Capaian ini menempatkan Lampung sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Pulau Sumatera, setelah Kepulauan Riau (7,14%) dan Sumatera Selatan (5,42%).
Data tersebut dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung dalam konferensi pers hybrid yang digelar di Aula BPS Lampung pada Selasa (5/8). Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, menyebut pertumbuhan ini menunjukkan tren penguatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kami mencatat pertumbuhan ekonomi Lampung pada Triwulan II-2025 mencapai 5,09% secara y-on-y. Ini menunjukkan penguatan dibandingkan Triwulan II-2024 yang hanya tumbuh 4,80%,” ujar Ahmadriswan.
Meski tumbuh signifikan, pertumbuhan ekonomi Lampung masih sedikit di bawah rata-rata nasional yang tercatat sebesar 5,12% pada periode yang sama. Secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Lampung tumbuh pesat sebesar 9,33%, sementara secara kumulatif semester I-2025 (cumulative-to-cumulative/c-to-c) tumbuh 5,27%, meningkat dari 4,08% pada semester I-2024.
Adapun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung pada Triwulan II-2025 tercatat sebesar Rp134,4 triliun (harga berlaku) dan Rp76 triliun (harga konstan 2010).
Dari sisi lapangan usaha, Industri Pengolahan menjadi sektor pendorong tertinggi dengan pertumbuhan 9,97%, didorong oleh peningkatan produksi makanan dan minuman.
“Industri makanan dan minuman mengalami peningkatan signifikan karena tingginya permintaan domestik,” jelas Ahmadriswan.
Sektor-sektor lain yang tumbuh signifikan meliputi: Jasa Lainnya: 9,18%, Akomodasi dan Makan Minum: 8,06%, Transportasi dan Pergudangan: 7,52%, Perdagangan Besar dan Eceran: 7,34%, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: 1,88%
Peningkatan juga didorong oleh naiknya mobilitas masyarakat selama libur panjang, serta melonjaknya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) yang tumbuh 84,73% (y-on-y).
Dari sisi pengeluaran, Ekspor Barang dan Jasa menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 7,50%. Ekspor ini didorong oleh komoditas unggulan Lampung seperti lemak dan minyak hewan, serta kopi.
Komponen lainnya yang tumbuh positif antara lain: Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB): 5,31%, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT): 4,67%.
“Konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung perekonomian Lampung, dengan kontribusi 62,41% terhadap total PDRB,” terang Ahmadriswan.
Meskipun mayoritas sektor mencatat pertumbuhan, beberapa sektor mengalami kontraksi, di antaranya: Pengadaan Listrik dan Gas: -4,71%, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P): -2,13%.
Kontraksi ini disebabkan oleh penurunan produksi gas kota dan kebijakan efisiensi belanja pemerintah.
Dengan pertumbuhan 5,09%, Provinsi Lampung menyumbang 10,30% terhadap total PDRB Pulau Sumatera. Sementara itu, inflasi pada Juni 2025 tercatat relatif terkendali sebesar 2,27% (y-on-y).
“Secara keseluruhan, pertumbuhan ini mencerminkan kekuatan aktivitas domestik, peningkatan ekspor, dan mobilitas masyarakat. Ini capaian yang membanggakan di tengah tantangan global,” tutup Ahmadriswan.**





