Suster Mariana, HK: Biarawati Pertama yang Mendaki Puncak Gunung Seminung, Merayakan 25 Tahun Hidup Membiara dengan Perjalanan Spiritual

KRAKATAU.ID, LAMPUNG BARAT – Dalam dunia yang sering kali terikat pada rutinitas dan keheningan biara, Suster Mariana, HK, seorang biarawati dari Kongregasi Suster-suster Belaskasih Hati Yesus Yang Maha Kudus (HK), memutuskan untuk menapaki jejak yang tidak biasa: mendaki Gunung Seminung. Tidak hanya sekadar sebuah pendakian, perjalanan ini menjadi simbol perjalanan hidupnya sebagai seorang biarawati yang pada tahun ini merayakan 25 tahun hidup membiara.

Gunung Seminung, yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, memiliki ketinggian 1.881 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung ini bukan hanya dikenal dengan medan yang menantang, tetapi juga sebagai lokasi yang menuntut ketangguhan fisik dan mental. Namun bagi Suster Mariana, pendakian ini adalah pengalaman spiritual yang mendalam.

Pada tanggal 1-2 November 2024, Suster Mariana diundang untuk ikut serta dalam acara “51 Tahun Radio Suara Wajar Goes To Seminung Mountain,” sebuah kegiatan yang diadakan oleh Radio Suara Wajar dan dihadiri oleh berbagai komunitas, termasuk Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan (HAK) dan Kerawam. Dalam acara ini, Suster Mariana menjadi biarawati pertama yang menaklukkan puncak Gunung Seminung, memberikan kesan mendalam baik bagi dirinya maupun peserta lainnya.

Pendakian yang Lebih dari Sekadar Fisik

Bagi Suster Mariana, pendakian ini adalah sebuah perjalanan yang penuh makna, lebih dari sekadar menaklukkan puncak gunung.

“Ini adalah pengalaman luar biasa, yang saya maknai sebagai perjalanan hidup saya sebagai seorang biarawati. Tahun ini, saya merayakan 25 tahun hidup membiara, dan pendakian ini terasa seperti sebuah simbol dari perjalanan panjang itu,” ujar Suster Mariana ketika berbicara kepada Krakatau.id, Minggu (3/4/2024).

Namun, pendakian ke puncak Gunung Seminung tidak mudah. Dengan jalur berbatu dan medan yang terjal, Suster Mariana menghadapi banyak rintangan sepanjang perjalanan.

“Ada kalanya saya merasa lelah, tak sanggup melanjutkan. Tapi ada dorongan yang kuat dari dalam hati untuk terus berjuang sampai puncak. Kekuatan doa adalah yang memberi saya semangat untuk melangkah lebih jauh,” kenangnya, menceritakan perjuangannya menaklukkan jalur yang penuh tantangan.

Meskipun perjalanan fisik sangat menantang, Suster Mariana merasa bahwa pendakian ini juga mengajarkan banyak hal tentang ketekunan, kesetiaan, dan pentingnya dukungan antar sesama.

“Dalam perjalanan ini, saya merasakan dukungan yang luar biasa dari teman-teman seperjalanan. Mereka siap membantu dengan sabar. Itu mengingatkan saya bahwa dalam perjalanan hidup, kita tidak berjalan sendiri,” tambahnya.

Pelajaran Hidup di Tengah Alam

Suster Mariana juga menyoroti betapa pentingnya peka terhadap keadaan sekitar selama perjalanan.

“Ada momen saat kita harus memperhatikan setiap langkah yang kita ambil. Ketika turun, saya memperhitungkan dengan cermat setiap tempat di mana kaki akan diletakkan, agar tidak tergelincir,” kata Suster Mariana, mengingatkan tentang pentingnya kesadaran diri dalam setiap tindakan.

Namun, ada satu hal yang menurutnya sangat berharga selama pendakian ini: perjalanan turun dari puncak.

“Ketika turun, kami berbincang dengan teman-teman seperjalanan, dan saya menyadari bahwa pohon-pohon, akar-akar, bahkan batu bisa menjadi alat bantu yang sangat berguna saat kita menuruni medan yang curam,” ungkapnya dengan senyum penuh makna.

Refleksi di Puncak

Saat akhirnya mencapai puncak Gunung Seminung, Suster Mariana merasakan kedamaian yang luar biasa.

“Di puncak gunung, saya merasa sangat bersyukur. Saya merenung, berdoa, dan menyadari bahwa perjalanan ini telah mengajarkan saya banyak hal. Ada banyak pelajaran berharga yang saya temukan,” ujar

Suster Mariana, mencurahkan perasaan reflektifnya setelah menyelesaikan perjalanan tersebut.

Dalam perjalanan ini, Suster Mariana merasa bahwa Tuhan berbicara lewat setiap langkah dan rintangan yang dia hadapi.

“Beberapa pelajaran penting yang saya dapatkan dalam perjalanan ini antara lain: kekuatan doa yang tak terhingga, ketekunan dan kesetiaan untuk terus maju, kepekaan terhadap keadaan sekitar, rasa solidaritas dengan sesama, dan yang terpenting, perjuangan tanpa henti hingga akhir,” kata Suster Mariana, dengan penuh rasa syukur dan keharuan.

Sebuah Pesan untuk Semua

Melalui pendakian Gunung Seminung, Suster Mariana tidak hanya merayakan 25 tahun hidup membiara, tetapi juga mengajarkan kita tentang arti ketekunan, kekuatan doa, dan pentingnya bekerja sama dalam menghadapi tantangan hidup.

“Saya berharap pengalaman ini bisa menginspirasi banyak orang, bahwa dalam setiap perjalanan, baik itu dalam kehidupan spiritual maupun kehidupan sehari-hari, kita tidak boleh menyerah. Dengan doa dan ketekunan, kita bisa melewati segala tantangan,” tuturnya dengan penuh keyakinan.

Menjadi Teladan dalam Perjalanan Hidup

Pendakian Suster Mariana ke puncak Gunung Seminung bukan hanya tentang pencapaian fisik, tetapi juga tentang makna lebih dalam yang bisa diambil dari setiap langkah. Ini adalah perjalanan hidup seorang biarawati yang menunjukkan kepada dunia bahwa dengan iman dan doa, kita bisa mengatasi segala tantangan yang ada.

Suster Mariana, HK telah membuktikan bahwa dengan tekad dan semangat yang tidak pernah padam, kita semua bisa mencapai puncak-puncak kehidupan kita—baik itu puncak gunung maupun puncak spiritualitas.****