KRAKATAU.ID, BANDARLAMPUNG -– Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel melalui Integrated Terminal (IT) Panjang meresmikan Rumah Maggot (Ruggot) sekaligus menggelar pelatihan budidaya maggot di Kampung Baru Tiga, Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung. Program ini merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), yang bertujuan menangani persoalan sampah organik sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.
Budidaya maggot menjadi alternatif ekologis dan ekonomis dalam mengatasi limbah organik. Maggot mampu mengurai sampah rumah tangga secara efisien dan menghasilkan pakan berprotein tinggi untuk ikan, unggas, hingga burung, sehingga mendukung terciptanya ekonomi sirkular berbasis lingkungan.
Pelatihan budidaya maggot menghadirkan Wahyu Budi Wibowo, anggota Kelompok Apartemen Maggot 21, binaan Program TJSL Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Thaha. Peserta diberikan pembekalan menyeluruh terkait siklus hidup maggot, teknik budidaya dari skala rumahan hingga komersial, pemanfaatan limbah organik sebagai media tumbuh, serta analisis ekonomi dan potensi bisnisnya.
Sekretaris Camat Panjang, M. Sahril, mengapresiasi inisiatif Pertamina yang dinilai selaras dengan kebutuhan masyarakat.
“Maggot mampu mengurai limbah organik dalam waktu singkat. Ini menjadi solusi cerdas untuk mengurangi volume sampah rumah tangga dan industri, khususnya di Kelurahan Panjang Utara yang rawan banjir akibat penumpukan sampah,” ujarnya.
Ria Audina, Ketua Kelompok Ruggot binaan TJSL Pertamina, mengungkapkan optimismenya terhadap dampak sosial dan ekonomi dari kegiatan ini.
“Kami melihat potensi besar dari budidaya maggot ini. Selain bisa menjadi usaha yang menguntungkan dengan modal kecil, kegiatan ini juga turut membantu penanganan sampah di lingkungan kami,” ucap Ria.
Rusminto Wahyudi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk nyata komitmen Pertamina dalam mendorong ekonomi hijau dan masyarakat mandiri.
“Program ini merupakan implementasi ekonomi sirkular yang mengintegrasikan aspek lingkungan dan sosial. Kami berharap peserta dapat langsung memulai budidaya maggot baik secara rumahan maupun komersial. Harapannya, inisiatif ini bisa direplikasi di wilayah lain sebagai model pengelolaan limbah organik yang berkelanjutan,” ungkap Rusminto.
Inisiatif ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya: Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, Tujuan 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, dan Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim.***






