KRAKATAU.ID, PULAU SEBESI — Sabtu, 31 Januari 2026, terasa berbeda sejak pagi. Di ujung Januari yang hampir padam seperti sumbu lilin, aku kembali menjejakkan kaki di Anak Gunung Krakatau. Untuk kesekian kalinya. Namun perasaan yang menyambut tetap sama, rindu yang lama dipendam, seperti pertemuan dua sahabat yang sempat dipisahkan oleh luka besar bernama erupsi 2018.
Bersama rombongan wisatawan yang didominasi wajah-wajah dari Jakarta dan Palembang, kami bertolak dari Pulau Sebesi sekitar pukul 13.40 WIB. Laut siang itu seolah membuka jalan. Ombak bersahabat, angin tidak tergesa. Tepat pukul 15.16 WIB, perahu merapat di kaki Anak Gunung Krakatau, gunung muda yang tumbuh dari rahim tragedi, namun berdiri dengan ketenangan yang justru membuat siapa pun menunduk hormat.
Langkah pertama langsung disambut hamparan pasir hitam pekat. Warnanya menyimpan memori letusan, kehancuran, sekaligus kelahiran ulang. Pasir itu menanjak hingga ketinggian sekitar 110–157 meter di atas permukaan laut, membentuk karakter khas Anak Krakatau: hitam, sunyi, dan jujur, seperti sejarah yang memilih untuk apa adanya.
Dari sisi selatan barat, Gunung Api Purba Krakatau tampak kokoh menjulang. Dialah ibu dari Anak Gunung Krakatau, gunung yang meledak dahsyat pada 1883 dan mengubah peta dunia. Dari puncak Anak Krakatau, sang ibu terlihat megah dan anggun, seolah tak pernah lelah mengawasi anaknya yang terus tumbuh, meski lahir dari puing kehancuran.
Sekitar satu jam aku berada di puncak. Rasa takjub bercampur syukur mengalir tanpa henti kepada Tuhan, Raja Semesta Alam. Ketika peserta lain sibuk berswafoto, aku memilih menyepi, menatap kawah Anak Krakatau dan siluet Gunung Purba yang berdiri tenang di kejauhan. Di sanalah aku menyadari, keindahan tidak selalu meminta untuk direkam; kadang ia hanya ingin dihormati dalam diam.
Di sisi tempatku menyendiri, duduk seorang lelaki tua dengan raut wajah teduh, Arya Mahessa. Guratan di wajahnya seperti menyimpan cerita panjang tentang Krakatau. Ia berbicara pelan, namun setiap kalimatnya terasa dalam.
“Anak Gunung Krakatau punika boten namung tumpukaning watu saha geni. Panjenenganipun miyos saking geger agenging alam, lan tuwuh sajroning pangreksanipun wekdal. Para sarjana nyebat punika minangka prosesing bumi, dene para sepuh mangertos punika minangka pratandha gesanging daya alam ingkang kedah dipunajeni.”
“Miturut pamawasipun para leluhur, saben papan ageng mesthi wonten ingkang ngreksa. Boten kangge dipunsembah, nanging minangka pangeling supados manungsa boten sembrana, boten gumedhé, saha tansah eling dhateng paugeraning gesang. Sinten ingkang eling lan waspada, badhé pinaringan wilujeng; dene ingkang nglirwakaken tata krama, badhé pinanggih piwales saking alam piyambak.”
“Mila Krakatau punika boten nyuwun dipunkuwasani, nanging dipunpahami. Boten nyuwun dipuntakuti, nanging dipunajeni. Ing ngriku kawruh ilmiah saha kawruh leluhur sami pinanggih, mulang manungsa supados gesang selaras kaliyan jagad.”
Kata-kata itu kemudian ia jelaskan dalam bahasa Indonesia: bahwa Anak Gunung Krakatau bukan sekadar tumpukan batu dan api. Ia lahir dari kegemilangan alam dan tumbuh dalam perlindungan waktu. Para ilmuwan menyebutnya sebagai proses bumi, sementara para tetua memahaminya sebagai tanda hidupnya kekuatan alam yang wajib dihormati. Setiap tempat besar diyakini memiliki penjaga—bukan untuk disembah, melainkan sebagai pengingat agar manusia tidak sembarangan, tidak sombong, dan selalu ingat pada aturan hidup. Mereka yang eling dan waspada akan diberi keselamatan; sebaliknya, yang melanggar tata krama akan menerima balasan dari alam itu sendiri. Krakatau tidak meminta untuk dikuasai, tetapi dipahami; tidak meminta untuk ditakuti, tetapi dihormati. Di sanalah pengetahuan ilmiah dan kearifan leluhur bertemu, mengajarkan manusia hidup selaras dengan alam semesta.
Perbincangan singkat itu membuat pikiranku berkelana jauh. Aku sadar, perjalanan ini bukan sekadar wisata alam, melainkan ziarah kesadaran, pelajaran tentang kerendahan hati di hadapan semesta.
Panggilan Ketua Rombongan Atlas Adventure memecah keheningan. Akupun pamit padanya untuk bergabung dengan rombongan yang lain. Dalam hati aku hanya bertanya-tanya siapa orang itu sebenarnya yang baru saja berbincang. Rasanya aku seperti berbicara dengan Gunung Krakatau.
Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Kami harus turun dan kembali ke kapal, menuju Pulau Sebesi. Pukul 18.45 WIB, kapal akhirnya bersandar di dermaga. Senja telah berganti malam, namun pikiran masih terang oleh makna perjalanan.
Benteng, salah satu pemandu wisata kami, tersenyum sambil mengatakan bahwa cuaca hari itu sangat bersahabat. “Jarang sekali,” katanya. “Biasanya hujan dan gelombang sulit ditebak.” Mungkin alam sedang berbaik hati. Atau mungkin, ia hanya menyambut mereka yang datang dengan sikap hormat.
Aku pulang dengan langkah yang sama, tetapi jiwa yang berbeda. Anak Gunung Krakatau tidak memberiku cendera mata, selain satu hikmah paling berharga: di hadapan alam, manusia hanyalah tamu. Dan tamu yang baik tahu diri, tahu batas, dan tahu cara bersyukur.”***






