KRAKATAU.ID, JAKARTA — Di tengah kompetisi industri telekomunikasi yang semakin ketat dan tekanan ekonomi makro yang belum sepenuhnya pulih, XL Axiata menunjukkan bahwa transformasi digital bukan hanya tren, tapi strategi bisnis yang terbukti efektif. Laporan kinerja kuartal pertama 2025 menunjukkan bahwa pendekatan berbasis digitalisasi telah menjadi penopang utama pertumbuhan perusahaan, bahkan saat proses merger dengan Smartfren tengah berlangsung.
Hingga akhir Maret 2025, XL Axiata mencatat pendapatan sebesar Rp 8,6 triliun atau tumbuh 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (YoY), serta mencatatkan EBITDA sebesar Rp 4,32 triliun dengan margin 50,2%. Di tengah dinamika internal akibat merger dan tekanan eksternal dari daya beli masyarakat yang melemah, angka-angka ini mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam menjalankan strategi efisiensi dan digitalisasi.
Salah satu elemen kunci keberhasilan tersebut adalah optimalisasi aplikasi digital MyXL dan AXISNet, yang kini menjangkau 35,7 juta pengguna aktif. Pertumbuhan Monthly Active Users (MAU) yang mencapai 18% YoY menjadi indikator kuat bahwa kanal digital ini tak hanya memperluas engagement pelanggan, tapi juga memberikan kontribusi langsung terhadap pendapatan—hingga 21%.
Presiden Direktur & CEO XLSMART, Rajeev Sethi, menyebut strategi digital sebagai “fondasi utama pertumbuhan berkelanjutan” yang memungkinkan perusahaan memahami pelanggan secara lebih presisi dan memberi penawaran yang personal. “Kami terus menyempurnakan penawaran yang tepat, untuk pelanggan yang tepat, pada waktu yang tepat,” ujarnya.
Transformasi digital ini juga memperkuat kemampuan XL Axiata dalam menjalankan strategi Fixed Mobile Convergence (FMC), menyatukan layanan mobile dan broadband rumah tangga. Dengan lebih dari 1 juta pelanggan layanan FBB dan trafik data yang tumbuh 9% YoY, XL Axiata mengokohkan posisinya sebagai penyedia layanan terintegrasi yang memahami perubahan gaya hidup digital masyarakat.
Secara operasional, perusahaan juga menunjukkan kedewasaan dalam mengelola biaya. Walau beberapa pos seperti biaya interkoneksi dan regulasi meningkat, strategi digitalisasi di area pemasaran dan penjualan berhasil menekan biaya secara keseluruhan, menjaga rasio pengeluaran tetap di bawah laju pertumbuhan pendapatan.
Seiring dengan rampungnya proses merger dengan Smartfren yang efektif sejak 16 April 2025, entitas gabungan kini resmi beroperasi sebagai PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. Dengan lebih dari 94,5 juta pelanggan dan proyeksi pendapatan Rp 45,8 triliun, XLSMART memiliki ambisi besar untuk mendefinisikan ulang konektivitas digital di Indonesia, dengan kekuatan personalisasi layanan sebagai nilai jual utama.
Kedepannya, integrasi dua kekuatan besar ini akan memperluas cakupan jaringan dan memperkuat analitik data pelanggan yang memungkinkan penciptaan layanan yang semakin relevan.
Rajeev menegaskan bahwa transformasi digital akan terus menjadi tulang punggung strategi pertumbuhan, bahkan setelah merger.
“Kami ingin menjadi perusahaan yang paling dicintai di Indonesia pada 2027, dan semua itu dimulai dari memahami pelanggan secara digital,” pungkasnya.***












