KRAKATAU.ID, BANDARLAMPUNG — Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung pada triwulan I-2025 mencatat angka tertinggi dalam lima tahun terakhir, yakni sebesar 5,47% secara tahunan (y-on-y), menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, di balik angka positif ini, masih terlihat adanya ketimpangan pertumbuhan antar sektor dan ketergantungan pada sektor-sektor tertentu.
Dalam siaran resmi yang disampaikan secara daring, Kepala BPS Lampung, Ahmadriswan Nasution, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga, lonjakan ekspor, dan sektor pertanian yang kembali pulih pasca dampak El Nino. “Ini capaian terbaik dalam lima tahun terakhir,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Krakatau.id, Selasa (6/5/2025).
Namun demikian, jika ditelusuri lebih dalam, pertumbuhan ekonomi Lampung masih sangat bergantung pada tiga sektor utama: pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan. Ketiga sektor ini menyumbang hampir 59% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Industri pengolahan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar (1,61 poin), sementara sektor lain seperti pengadaan listrik dan gas, jasa lainnya, serta konstruksi mengalami kontraksi cukup dalam secara kuartalan (q-to-q), masing-masing sebesar -10,65%, -8,54%, dan -4,97%.
Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan pertumbuhan lintas sektor yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dalam jangka menengah.
“Ketergantungan pada sektor-sektor tertentu, terutama yang sangat sensitif terhadap siklus musiman dan faktor eksternal, menjadi perhatian tersendiri,” ujar seorang analis ekonomi dari Universitas Lampung.
Di sisi investasi, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tumbuh signifikan, namun Penanaman Modal Asing (PMA) justru terkontraksi 17,55% secara tahunan. Ini mencerminkan bahwa daya tarik Lampung terhadap investor asing belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan yang merata.
Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) tetap menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi sebesar 64,79% terhadap PDRB. Sementara komponen ekspor justru menyumbang pertumbuhan terbesar (kontribusi 118,10%), yang mencerminkan bahwa perekonomian Lampung juga sangat dipengaruhi oleh permintaan eksternal—sebuah faktor yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan secara lokal.
BPS mencatat adanya pengaruh kuat momentum Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional terhadap pertumbuhan konsumsi dan mobilitas. Namun, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di luar periode musiman seperti ini masih menjadi tanda tanya, terlebih dalam menghadapi potensi tekanan global dan fluktuasi harga komoditas ekspor utama seperti CPO dan kopi.
Secara keseluruhan, meskipun pertumbuhan ekonomi Lampung patut diapresiasi, tantangan struktural seperti ketimpangan pertumbuhan antar sektor, kurangnya diversifikasi ekonomi, dan rendahnya investasi asing masih perlu dibenahi agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tapi juga inklusif dan berkelanjutan.***








