KRAKATAU.ID, BANDARLAMPUNG – Di tengah deru kehidupan modern yang sering kali mengalihkan perhatian anak muda kepada gadget dan permainan daring, ada satu sosok yang tetap berkomitmen untuk melestarikan kesenian tradisional: Yohanes Diko Apriyanto. Di usia 22 tahun, Diko, yang akrab disapa, telah menarikan Bujang Ganong, sebuah pertunjukan ikonik dalam kesenian Reog Ponorogo, dan menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda lainnya.
Bujang Ganong atau Ganongan bukan sekadar tarian; ia adalah simbol dari kekuatan, kecerdikan, dan humor. Dalam penampilannya, Diko membawa penonton terhanyut dalam dunia yang penuh warna dan makna, dengan gerakan akrobatik yang memukau dan wajah ceria yang menghiasi topeng raksasa. “Setiap penampilan, saya selalu merasakan semangat yang baru. Menari adalah bagian dari diri saya,” ungkap Diko saat ditemui di Krakatau.id di Bandarlampung, Rabu, 25 September 2024.
Bekerja di Wisma Albertus, Pahoman, Bandarlampung, Diko membagi waktu antara pekerjaan dan passion-nya. Meskipun memiliki kesibukan yang padat, ia tetap meluangkan waktu untuk berlatih, dengan sesi latihan dua kali seminggu dan bahkan lebih intensif menjelang pentas. “Seni adalah warisan yang harus kita jaga. Jika bukan kita, lalu siapa lagi?” kata Diko penuh semangat.
Keluarga Diko memang memiliki latar belakang seni yang kuat, dan sejak kecil ia telah menyerap nilai-nilai tersebut. “Saya belajar secara otodidak, terinspirasi oleh keluarga. Mungkin jiwa seni dalam diri saya berasal dari mereka,” jelasnya. Diko tergabung dalam Paguyuban Reok Singo Manggoloyudo, komunitas yang memiliki lebih dari 50 anggota, serta aktif dalam Komunitas Reok Lampung (Korela).

Dalam perjalanan kariernya, Diko telah tampil di berbagai tempat, dari Palembang hingga berbagai lokasi di Lampung. Namun, jalan untuk melestarikan kesenian tradisional ini tidak selalu mulus. “Ada kalanya kami tampil tanpa bayaran, dan itu menjadi pengorbanan kami untuk seni,” keluhnya. Terlebih lagi, risiko cedera akibat gerakan ekstrem yang dilakukan dalam tarian Bujang Ganong menjadi tantangan tersendiri. “Saya pernah mengalami luka, bahkan keseleo, tapi itu semua bagian dari perjalanan,” katanya dengan penuh keteguhan.
Diko menyadari bahwa pandangan negatif sering kali mengiringi langkahnya. Banyak yang mencibir, menganggap seni tradisional sebagai hal yang klenik. Namun, baginya, pencinta seni tidak boleh terpengaruh oleh stigma semacam itu. “Saya selalu mengenakan kalungan rosario saat tampil. Ini cara saya menunjukkan keyakinan dan cinta pada seni,” tambahnya.
Melalui dedikasi dan komitmennya, Diko bukan hanya menari untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menginspirasi generasi muda lainnya. Dalam setiap goyangan, ia menanamkan pesan penting: seni dan budaya adalah warisan yang harus dilestarikan, terutama di era digital ini.
“Saya ingin anak muda melihat bahwa menari dan melestarikan budaya itu penting. Mari kita buktikan bahwa kita bisa mencintai tradisi sambil tetap beradaptasi dengan zaman,” tutupnya, menyiratkan harapan yang besar untuk masa depan kesenian tradisional.
Di tengah tantangan zaman, Yohanes Diko Apriyanto adalah bintang yang bersinar, membawa pesan harapan melalui tarian yang tak lekang oleh waktu.***






