KRAKATAU.ID, BANDARLAMPUNG — Dalam sebuah acara yang digelar di Rumah Cendana, Pahoman, Bandar Lampung pada Rabu petang, 28 Agustus 2024, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag, membagikan sebuah cerita penuh makna tentang kerukunan antar umat beragama.
Acara “Ngopi Pay” yang diselenggarakan oleh Komisi Hubungan Antar Agama (HAK) dan Kepercayaan Keuskupan Tanjungkarang ini menyoroti pentingnya toleransi dan kerjasama lintas agama, melalui pengalaman pribadi Prof. Sudarman yang menggugah hati.
Prof. Sudarman, yang lahir dan dibesarkan di Gisting, Kabupaten Tanggamus, sebuah daerah dengan keberagaman masyarakat yang tinggi, menceritakan sebuah peristiwa yang menunjukkan betapa kuatnya ikatan toleransi di komunitasnya.
Pada suatu ketika, SMP Muhammadiyah Gisting, mengalami musibah kebakaran. Ketika kejadian ini terjadi, Prof. Sudarman, yang saat ini menjabat sebagai ketua PWM Lampung, hadir untuk memberikan dukungan moral dan material kepada sekolah yang terdampak.
Namun, yang mengejutkan dan menyentuh hati adalah fakta bahwa bantuan pertama yang diterima SMP Muhammadiyah Gisting datang dari teman-teman beragama Katolik.
Dalam laporan yang disampaikan oleh pimpinan Muhammadiyah di Tanggamus, terungkap bahwa sumbangan pertama kali yang diterima berasal dari komunitas Katolik di komplek Xaverius, Gisting.
“Ketika SMP Muhammadiyah Gisting terbakar, saya sebagai ketua wilayah hadir untuk memberikan dukungan dan membesarkan hati mereka. Tapi yang paling mengejutkan adalah bantuan pertama datang dari teman-teman Katolik. Ini adalah contoh nyata dari kerukunan dan kepedulian antar umat beragama yang sangat kita hargai,” ujar Prof. Sudarman saat menceritakan pengalamannya di hadapan tokoh lintas agama yang hadir.
Cerita ini menjadi cermin betapa pentingnya kerukunan dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Gisting, dengan keragaman agama dan budaya, menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan, nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas s tetaplah menjadi landasan utama dalam hubungan antarwarga.
Di Gisting, dimana komunitas Kristen dan Katolik cukup banyak, Prof. Sudarman sejak kecil sudah terbiasa hidup berdampingan dengan tetangga yang berbeda agama. Pengalaman ini menegaskan bahwa hidup dalam masyarakat plural bukanlah hal yang asing, melainkan sebuah kesempatan untuk saling belajar dan mendukung.
“Sejak kecil, saya sudah bergaul dengan teman-teman Kristen dan Katolik. Ketika SMP Muhammadiyah Gisting mengalami kebakaran, dukungan pertama kali datang dari mereka. Ini membuktikan bahwa di akar rumput, kita memiliki tradisi yang baik dan tidak ada masalah berarti dalam hubungan antar pemeluk agama,” tutupnya.***






