KRAKATAU.ID, BANDARLAMPUNG -– Sebagai bagian dari alam semesta kita semua dihububungkan dengan ikatan tak terlihat dan bersama-sama semacam membentuk keluarga universal, persekutuan luhur yang memenuhi kita dengan rasa hormat yang sakral penuh kasih sayang dan rendah hati (LS 67).
Tanggung jawab untuk Bumi yang adalah milik Allah menyiratkan bahwa manusia yang diberkati dengan akal budi menghormati hukum alam dan kesimbangan halus yang ada di antara mahluk-mahluk di dunia ini.
Itulah sebabnya hukum-hukum suci (dalam Kitab suci) memberi manusia berbagai norma bukan hanya berkaitan dengan sesame manusia tetapi juga berkaitan dengan mahluk-mahluk hidup lainnya.
Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalammya dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya (Ul 22 : 4,6 ).
Jelaslah bahwa kitab suci tidak mengizinkanan troposentrisme yang tidak peduli akan mahluk-mahluklainnya, ( LS 68 ).
Alam adalah komunitas sakral yang besar di mana kita berada. Diasingkan dari komunitas ini berarti menjadi miskin dalam segalahal yang menjadikan kita manusia. Merusak komunitas sacral ini berarti menghilangkan eksistensi diri (Thomas Berry).
Kita membutuhkan solidaritas baru dan universal dalam bentuk bakat dan keterlibatan setiap orang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan yang di sebabkan oleh manusia yang menyalahgunakan ciptaan Allah. Kita semua dapat bekerjasama sebagai sarana Allah untuk melindungi keutuhan ciptaan, masing-masing dengan budayanya, pengalamnya, prakarsanya dan bakatnya (LS 14).***
Penulis : Sr. Vincentia, HK (Koordinator Sektor Pendidikan Laudato Si Indonesia)












