KRAKATAU.ID, MESUJI – TNI Angkatan Udara menggelar uji coba pendaratan pesawat tempur di ruas Tol Trans Sumatera, Lampung, Rabu. Dua pesawat tempur, Super Tucano dan F-16, sukses mendarat dan lepas landas dengan aman dalam kegiatan yang menjadi yang pertama kali dilakukan di jalan tol di Indonesia.
Uji coba tersebut dipantau langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan Marskal Madya TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto bersama jajaran Kementerian Pertahanan, TNI AU, serta Kementerian Pekerjaan Umum.
Menurut Donny, pelaksanaan uji coba ini menjadi penanda penting dalam penguatan sistem pertahanan negara, khususnya dalam menyiapkan infrastruktur sipil agar dapat difungsikan untuk kepentingan pertahanan pada kondisi darurat.
“Dilaksanakan pada hari ini, ini untuk yang pertama kali ya, uji coba pendaratan pesawat tempur di jalan tol. Alhamdulillah, hari ini dapat kita laksanakan dengan aman dan lancar,” kata Donny.
Ia menjelaskan, dua jenis pesawat tempur yang diuji memiliki karakteristik berbeda. Super Tucano merupakan pesawat turboprop yang digunakan TNI AU untuk patroli udara, pengintaian, serta dukungan udara jarak dekat. Sementara F-16 adalah pesawat tempur supersonik yang menjadi garda terdepan pertahanan udara nasional.
“Kedua pesawat tempur yang diuji, Super Tucano dan F-16, dilaporkan dalam kondisi aman. Artinya, apa yang kita rencanakan berhasil dan berjalan sesuai skenario,” ujarnya.
Tol sebagai Landasan Darurat
Donny menegaskan, uji coba ini bukan sekadar atraksi, melainkan bagian dari konsep besar pertahanan negara yang melibatkan seluruh elemen, termasuk infrastruktur sipil. Jalan tol disiapkan sebagai alternatif landasan pacu ketika pangkalan udara tidak dapat digunakan.
Ia menyebut konsep tersebut sejalan dengan sistem pertahanan semesta yang menempatkan seluruh komponen bangsa sebagai bagian dari upaya bela negara, termasuk kementerian teknis, operator jalan tol, hingga masyarakat.
“Ini adalah perwujudan sistem pertahanan semesta. Pertahanan negara bukan hanya urusan TNI, tetapi melibatkan kementerian, pengelola jalan tol, dan masyarakat yang hari ini bersedia mengalah menggunakan jalur alternatif,” ujar Donny.
Ke depan, Kementerian Pertahanan telah menyiapkan peta jalan agar sejumlah ruas jalan tol dan jalan nasional di berbagai wilayah Indonesia dapat dirancang memenuhi spesifikasi teknis sebagai landasan darurat pesawat.
Menurut Donny, konsep ini penting untuk menjaga kesiapsiagaan pertahanan di wilayah kepulauan. Dengan banyak titik alternatif pendaratan, operasional pesawat tempur tetap dapat berjalan meski pangkalan utama terganggu.
“Kita ingin di setiap pulau besar memiliki banyak alternatif pangkalan. Kalau satu pangkalan diserang, masih ada opsi lain. Karena itu, beberapa ruas jalan tol ke depan akan kita desain agar bisa difungsikan sebagai runway,” ucapnya.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur ke depan akan diselaraskan dengan kebutuhan pertahanan. Kementerian Pertahanan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian PUPR serta pihak pengelola jalan tol agar spesifikasi teknis runway darurat dapat terpenuhi.
“Ke depan, dalam pembangunan jalan tol, kita akan sesuaikan spesifikasinya agar memenuhi persyaratan sebagai runway. Ini bagian dari roadmap pertahanan nasional,” kata Donny.
Donny juga mengapresiasi kemampuan para penerbang TNI AU yang mampu mendaratkan pesawat tempur di ruas tol dengan lebar terbatas. Ia menyebut pendaratan di jalan tol memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan di pangkalan udara.
“Lebar jalan tol hanya sekitar 24 meter, jauh lebih sempit dibanding runway bandara yang bisa 45 sampai 60 meter. Ini cukup riskan, tapi penerbang TNI AU sudah dilatih untuk kondisi sempit, dan hasilnya aman,” ujarnya.***






