Program Komunitas Belajar (KOMBEL) Yunior Xavaepa (KYX) dalam Maksimalisasi Hadapi TKA

KRAKATAU.ID — Dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang, sekolah dituntut untuk tidak hanya berfokus pada penyampaian materi pembelajaran, tetapi juga pada penguatan strategi belajar yang kolaboratif, terencana, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh. Salah satu upaya nyata yang relevan dengan tantangan tersebut adalah pelaksanaan Program Komunitas Belajar (Kombel) Yunior Xavepa (KYX) yang berada dalam koordinasi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Xaverius 2 Bandar Lampung, khususnya dalam rangka persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA), bersama guru mapel terkait dan para wali kelas.

Program KYX ini merupakan wujud sinergi antarbidang dan antarmapel di lingkungan sekolah, yang tidak hanya memadukan aspek akademik dan manajerial, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan psikologis peserta didik. KYX dirancang sebagai komunitas belajar sekaligus ruang berbagi, di mana siswa, guru, dan manajemen sekolah saling terlibat aktif dalam proses persiapan TKA secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan demikian, Kombel tidak sekadar menjadi kegiatan tambahan, melainkan bagian integral dari budaya belajar sekolah.

Koordinasi antara Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Kesiswaan menjadi fondasi penting dalam keberhasilan program ini. Waka Kurikulum berperan dalam memastikan bahwa materi, metode, dan strategi pembelajaran yang diterapkan selaras dengan tuntutan kompetensi TKA, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Sementara itu, Waka Kesiswaan berperan dalam mengatur dinamika peserta didik, membangun motivasi, kedisiplinan, serta iklim belajar yang kondusif. Kolaborasi keduanya menciptakan keseimbangan antara pencapaian akademik dan penguatan karakter siswa.

Salah satu keunggulan utama dari program Kombel adalah penerapan konsep tutor teman sebaya. Dalam konteks ini, sekolah membentuk tim sukses TKA yang terdiri dari murid-murid pilihan yang telah diseleksi oleh guru mata pelajaran TKA, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika. Murid-murid ini dipilih bukan hanya berdasarkan capaian akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kemauan untuk berbagi pengetahuan dengan teman sekelasnya. Peran mereka sebagai mentor sebaya menjadikan proses belajar lebih inklusif dan humanis.

Tutor teman sebaya memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan pembelajaran satu arah yang sepenuhnya bergantung pada guru. Peserta didik cenderung merasa lebih nyaman bertanya, berdiskusi, dan mengemukakan kesulitan belajar kepada teman sebaya. Bahasa yang digunakan lebih sederhana, pendekatan lebih dekat, dan suasana belajar menjadi lebih cair. Hal ini berdampak positif pada peningkatan pemahaman konsep, terutama bagi siswa yang selama ini merasa kurang percaya diri atau tertinggal secara akademik, sehingga KYX ini dapat menjadi klinik penyelesaian soal-soal konseptual dalam mempersiapkan TKA.

Meski demikian, peran guru tetap menjadi elemen kunci dalam program ini. Guru mata pelajaran TKA Bahasa Indonesia dan Matematika berfungsi sebagai pendamping, fasilitator, sekaligus pengarah bagi para tutor sebaya. Guru memastikan bahwa materi yang disampaikan tetap sesuai dengan kurikulum, indikator kompetensi, dan standar penilaian TKA. Dengan pendampingan ini, kualitas pembelajaran tetap terjaga, sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang sebagai pembelajar mandiri dan kolaboratif.

Harapan Kepala Sekolah, Sisil, agar TKA dapat dipersiapkan dengan maksimal oleh semua pihak tercermin kuat dalam pelaksanaan program KYX ini. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan TKA bukan semata tanggung jawab guru mata pelajaran, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga sekolah. Kepala sekolah memandang TKA sebagai tolok ukur akademik yang penting, bukan untuk memberi label atau tekanan, tetapi sebagai sarana evaluasi capaian pembelajaran dan kualitas proses pendidikan yang telah dijalankan.

Dengan menjadikan TKA sebagai tolok ukur akademik, sekolah memiliki dasar yang objektif untuk melakukan refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Hasil TKA nantinya dapat digunakan untuk memetakan kekuatan dan kelemahan peserta didik, efektivitas strategi pembelajaran, serta relevansi program pendukung seperti Kombel. Dalam konteks ini, KYX berfungsi sebagai jembatan antara proses pembelajaran harian dan tuntutan evaluasi akademik yang terstandar.

Lebih jauh, program KYX juga memiliki nilai strategis dalam membangun karakter peserta didik. Melalui tutor teman sebaya, siswa belajar tentang tanggung jawab, empati, kerja sama, dan kepemimpinan. Mereka tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keberhasilan bersama. Nilai-nilai ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial-emosional.

Dari sudut pandang manajemen sekolah, program KYX menunjukkan adanya perencanaan yang matang dan terstruktur. Penjadwalan yang jelas, pembagian peran yang tegas, serta koordinasi lintas bidang menjadikan program ini tidak bersifat insidental, melainkan berkelanjutan. Hal ini penting agar persiapan TKA tidak dilakukan secara mendadak, tetapi melalui proses yang bertahap dan terukur.

Tantangan tentu tetap ada, seperti konsistensi pelaksanaan, komitmen peserta didik, serta kebutuhan evaluasi berkala. Namun, dengan dukungan penuh dari kepala sekolah, koordinasi yang solid antara Waka Kurikulum dan Waka Kesiswaan, serta keterlibatan aktif guru dan siswa, program Kombel memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi praktik baik (best practice) di lingkungan sekolah.

Sebagai penutup, Program KYX dalam koordinasi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Kesiswaan, bersama guru mapel terkait dan para wali kelas, merupakan langkah progresif dan visioner dalam mempersiapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Program ini tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses pembelajaran yang kolaboratif, partisipatif, dan berpusat pada peserta didik. Dengan semangat kebersamaan dan tanggung jawab bersama, harapan Kepala Sekolah agar TKA dapat disiapkan secara maksimal oleh semua pihak bukanlah sekadar cita-cita, melainkan tujuan yang realistis dan dapat diwujudkan.

Salam Unggul Transformatif Berkarakter Kolaboratif dalam Kemandirian
SMP Xavepa Gemilang.***

Penulis: Fernando Aldi Marcos, S.Pd
Editor: Sisilia Surasi Andriani, S.Si., M.M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *