KRAKATAU.ID, BANDAR LAMPUNG — Ada suasana yang berbeda dalam Perayaan Ekaristi Minggu Adven II di Gereja Ratu Damai Telukbetung, Minggu (7/12/2025) pukul 09.00 WIB. Gereja kedatangan tamu-tamu istimewa, yakni anak-anak dan orang-orang berkebutuhan khusus (disabilitas) dari Stasi Telukbetung yang didampingi keluarga, serta anak-anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Pelita Kasih.
Kehadiran anak-anak istimewa tersebut merupakan bagian dari perayaan Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap 3 Desember. Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo.
Dalam perayaan tersebut, anak-anak istimewa tidak hanya hadir sebagai umat, tetapi turut ambil bagian secara aktif dalam liturgi. Mereka terlibat sebagai misdinar, lektor, pembaca doa umat, hingga pembawa sibori. Bacaan Kitab Suci dibawakan oleh Eusebio Maia, sementara persembahan dihantarkan oleh Fransisca Maranatha, Valentinus, Gaby, dan Kenken. Doa umat dipimpin oleh Reagen Yurfanda, dan salah satu petugas putri altar adalah Marceline.
Keterlibatan aktif anak-anak istimewa ini menjadi wujud nyata Gereja yang inklusif, membuka ruang partisipasi yang setara bagi semua umat tanpa terkecuali.
Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah-tamah di Gedung Serba Guna (GSG). Dalam sambutannya, Yohanes, orang tua dari salah satu anak istimewa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pihak Gereja, khususnya Romo Michael dan Suster Gemma, HK, atas perhatian dan pendampingan yang diberikan kepada anak-anak istimewa.
“Melalui kebersamaan ini, anak-anak bisa saling bertumbuh, saling mengenal, dan menghasilkan karya. Kami diingatkan untuk tidak malu, karena mereka adalah anugerah Tuhan yang istimewa. Tuhan mempercayakan mereka kepada kita untuk dididik dan dipelihara,” ungkap Yohanes.
Sejalan dengan arah dasar (Ardas) Keuskupan Tanjungkarang Tahun ke-8 yang baru saja berakhir, yakni “Tahun Keadilan Sosial dan Kemanusiaan”, Uskup Tanjungkarang mengajak seluruh umat untuk semakin tepat dan nyata dalam mengembangkan karya sosial kemanusiaan. Umat diajak untuk menjadi bagian dari saudara-saudari yang kurang beruntung melalui karya belaskasih dalam tugas perutusan di tengah masyarakat, sebagaimana tertuang dalam Surat Gembala Uskup Tanjungkarang Tahun Ardas ke-8.
Sebagai informasi, Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap 3 Desember merupakan momentum penting untuk menegaskan bahwa inklusivitas bukan sekadar konsep, melainkan komitmen nyata dalam membuka akses, kesempatan, dan ruang partisipasi bagi semua orang. Melalui peringatan ini, masyarakat diajak untuk memandang keberagaman sebagai kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama.***
Kontributor : Bastian Dani






