Romo Budhenk Ajak Umat Katolik Aktif Merawat Kebinekaan Lewat Dialog dan Kerja Bersama

KRAKATAU.ID, BANDAR LAMPUNG — Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Kom HAK KWI), Romo Aloysius Budi Purnomo Pr, atau akrab disapa Romo Budhenk, menegaskan bahwa kehadiran Gereja dalam kehidupan berbangsa dan beragama adalah untuk berdialog, membangun persaudaraan, dan merawat keberagaman sebagai karya Allah.

Hal itu disampaikan Romo Budhenk dalam kegiatan Sosialisasi Pedoman Komisi HAK KWI yang digelar di Gereja Santa Maria Immaculata, Way Kandis, Tanjung Senang, Bandar Lampung, pada Kamis (23/10/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh hampir seluruh anggota Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) serta Kerasulan Awam (Kerawam) Keuskupan Tanjungkarang.

Dalam paparannya, Romo Budhenk menjelaskan bahwa dialog lintas iman bukan sekadar kegiatan formal, melainkan panggilan iman Gereja untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah keberagaman.

“Maksud dari kehadiran Gereja untuk dialog adalah, pertama, kita menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah kehidupan yang beragam. Kita hidup dalam keberagaman, dan itu karya Allah. Allah tidak menghendaki semuanya seragam, tetapi beragam,” jelasnya.

Romo Budhenk menegaskan, melalui dialog dan perjumpaan lintas iman, Gereja ingin mengajak semua orang bersaudara dan membangun peradaban kasih yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Keberagaman ini membantu kita memahami visi-misi Katolik tentang Kerajaan Allah yang menyelamatkan semua orang. Dari situ lahir perdamaian dan peradaban kasih yang diwujudkan melalui kerukunan antaragama dan kepercayaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Romo Budhenk menyampaikan bahwa dialog juga merupakan wujud kesaksian iman.

“Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk memberi kesaksian. Tapi bagaimana kita bisa memberi kesaksian jika tidak pernah berjumpa dengan mereka yang berbeda dari kita? Karena itu, dialog adalah jalan untuk saling mengenal, bekerja bersama, dan merawat bumi — rumah kita bersama,” tegasnya.

Ia juga menyinggung ajaran penting Konsili Vatikan II, yakni “Nostra Aetate”, yang tahun ini genap berusia 60 tahun. Dokumen itu menegaskan bahwa Gereja menghormati segala yang baik, benar, suci, dan indah yang ada dalam setiap agama dan kepercayaan.

“Gereja tidak menolak apapun yang baik, benar, dan suci dari semua agama. Gereja justru mendorong putra-putrinya untuk bekerja sama di bidang sosial, budaya, seni, dan kemanusiaan. Dengan demikian, semua orang dapat mengalami damai sejahtera yang dihadirkan Kristus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup,” tutur Romo Budhenk.

Sebagai penutup, Romo Budhenk mengajak seluruh umat beriman dan masyarakat luas untuk terus menghargai serta menghidupi semangat kebersamaan dan perdamaian.

“Kita bersama-sama sebagai warga bangsa perlu menghargai dan menghormati keberagaman, hidup rukun dan damai sejahtera, lahir dan batin. Bila orang hidup rukun, maka Kerajaan Allah sungguh dihadirkan di lingkungan kita,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, kegiatan sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya Komisi HAK KWI untuk memperkuat pemahaman para penggerak Gereja di daerah dalam mewujudkan dialog lintas agama yang inklusif, humanis, dan berakar pada iman Katolik.***

Kontributor : Sr. Fransiska FSGM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *