KRAKATAU.ID, PESISIR BARAT -— Ada yang tak biasa di bibir Pantai Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, saat gelaran pembukaan ajang selancar internasional World Surf League (WSL) Krui Pro 2025, Selasa (10/6/2025) pagi. Di antara debur ombak dan sorak sorai penonton yang datang dari berbagai negara, 25 perempuan berseragam kebaya Bali menyedot perhatian lewat gerakan luwes dan penuh ekspresi dari sebuah tarian langka: Tari Dadong Rerod.
Mereka adalah anggota Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Pesisir Barat, yang secara khusus menampilkan tarian tradisional Bali ini sebagai bagian dari penampilan pembuka WSL Krui Pro 2025. Dengan gerakan khas dan kostum adat yang mencolok, mereka membawakan cerita tentang sosok nenek pekerja keras dari desa di Bali, sosok yang dikenal dalam budaya lokal sebagai “Dadong Rerod”.
Ketua WHDI Pesisir Barat, Gusti Ayu Putu Satyaningsih, menjelaskan bahwa Tari Dadong Rerod bukan sekadar pertunjukan seni biasa.
“Tarian ini terinspirasi dari tokoh nyata—seorang nenek bernama Rerod yang dikenal pekerja keras dan penuh kasih sayang. Gerakannya menggambarkan kehidupan sehari-hari seorang nenek Bali: menumbuk padi, menyiapkan sesajen, hingga merawat cucu,” ujarnya saat ditemui Krakatau.id usai pertunjukan.
Dengan wajah-wajah yang dihias riasan lembut dan senyum penuh makna, para penari menyampaikan pesan moral tentang ketulusan, cinta dalam keluarga, dan pentingnya menghormati orang tua serta budaya. Yang menarik, tarian ini tidak hanya mengajak penonton terhanyut dalam suasana haru, tapi juga seringkali mengundang tawa melalui elemen humor yang dibalut dalam gerak tubuh dan ekspresi jenaka para penari.
Meski tampil di ajang internasional, Gusti Ayu menyebutkan bahwa persiapan para anggota WHDI tidaklah rumit.
“Latihan hanya dua kali, karena ibu-ibu ini sudah hafal dan sering menari. Pertama untuk pemantapan, dan kedua gladi sebelum tampil. Tapi semangatnya luar biasa, karena kami ingin menunjukkan budaya Bali di tanah Lampung,” ungkapnya.
Tarian ini juga menjadi simbol harmoni budaya yang hidup di Kabupaten Pesisir Barat, daerah yang kaya dengan keragaman agama dan etnis. Penampilan Tari Dadong Rerod seolah menjadi penanda bahwa ajang WSL bukan hanya soal olahraga ekstrem, tapi juga ruang untuk diplomasi budaya yang menyentuh hati dunia.
Pembukaan WSL Krui Pro 2025 turut dihadiri sejumlah pejabat daerah dan nasional, antara lain Staf Ahli Bidang Sosial Kementerian Hukum dan HAM RI Kosmas Harefa, anggota DPD RI Almira Nabila Fauzi, serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung Bobby Irawan. Mereka tampak antusias menyaksikan sajian budaya yang menjadi bagian dari wajah ramah Indonesia di mata dunia.
Dengan kehadiran tarian ini, WSL Krui Pro 2025 tak hanya mencatatkan nama Pantai Tanjung Setia di peta dunia sebagai surga selancar, tapi juga sebagai panggung keindahan budaya yang mengalir lembut dari hati para penarinya—mengalun seperti ombak, dan menghangatkan seperti kasih seorang nenek.***






