KRAKATAU.ID, PESAWARAN — Matahari perlahan mulai turun ke barat ketika Dewanto, penjaga pos pendakian Gunung Betung, duduk santai di Basecamp Gunung Betung, Minggu (1/6/2025). Ia menyambut Krakatau.id dengan senyum ramah dan secangkir kopi. Di balik wajah tenangnya, tersimpan kisah yang menggetarkan hati — kisah yang terjadi dua dekade lalu di hutan rimba Gunung Betung.
“Tahun 2005, kami delapan orang masuk hutan cari madu lebah,” kenangnya.
Kala itu, Dewanto bersama tujuh rekannya dari Dusun Gunung Rejo, Desa Wiyono, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, menyusuri hutan Gunung Betung. Mencari madu bukan perkara mudah, tapi bagi warga sekitar, ini adalah tradisi turun-temurun.
Pencarian membawa mereka ke sebuah jurang curam. Di dekat pohon tempat lebah biasanya bersarang, mereka menjumpai sesuatu yang ganjil.
“Kami lihat ada siamang. Tapi anehnya, siamang itu tidak kabur,” ujar Dewanto.
Baginya, ini bukan hal biasa. Siamang liar biasanya akan segera menghindar begitu mencium keberadaan manusia. Tapi kali ini, tidak.
“Dia hanya bergerak di sekitar situ-situ aja. Kami jadi curiga, ada apa sebenarnya di sana?,” ungkapnya.
Didorong rasa penasaran, mereka mendekati tempat siamang itu berkeliling. Tepat di bawah pohon yang ditunjukkan sang primata, mereka terkejut bukan main — sebuah tengkorak manusia tergeletak, putih bersih, sunyi di antara dedaunan.
“Di sebelahnya ada kaos, jenis nilon, nomor 99. Dari bentuk tengkoraknya, kami yakin itu manusia. Sepertinya laki-laki,” ujarnya dengan suara pelan.
Tak ingin meninggalkan jasad tanpa penghormatan, Dewanto dan teman-temannya sepakat untuk menguburkan tengkorak itu di tempat mereka menemukannya.
“Kami musyawarah, lalu kami kuburkan. Kami azani. Kami doakan. Itu yang bisa kami lakukan,” ucapnya.
Meski pencarian madu tidak membuahkan hasil hari itu, pengalaman yang mereka alami jauh melampaui tujuan awal pendakian mereka.
“Kami tidak tahu siapa dia. Tidak ada laporan orang hilang, tidak ada pencarian. Tapi kami yakin, dia bukan hewan. Tengkoraknya terlalu besar,” jelas Dewanto.
Cerita ini terus hidup dalam ingatan Dewanto. Ia tak pernah benar-benar melupakan hari itu — pertemuan dengan siamang yang seolah memberi petunjuk, dan penemuan tengkorak manusia yang menanti penguburan dengan layak.
Gunung Betung, yang kini semakin ramai oleh para pendaki, menyimpan banyak misteri dan kisah yang belum terungkap. Tapi bagi Dewanto, hutan ini adalah rumah — saksi bisu atas kisah-kisah ganjil yang meneguhkan keyakinannya bahwa alam, dalam diamnya, bisa bicara lewat cara yang tak terduga.***






