Jeritan Siamang di Tengah Hutan Gunung Betung, Pertanda Sebelum Tragedi

KRAKATAU.ID, PESAWARAN — Di tengah keheningan hutan hujan tropis Gunung Betung, suara khas siamang menggema lebih sering dari biasanya pada Kamis, 29 Mei lalu. Bagi sebagian orang, itu hanyalah suara primata yang menghuni pepohonan tinggi. Namun bagi warga Dusun Gunung Rejo, Desa Wiyono, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, suara itu membawa firasat yang tidak biasa.

“Kamis kemarin, siamang bunyi terus. Di sini memang sudah biasa, kalau ada yang ninggal atau ada kejadian, pasti siamang itu bunyi. Cuma kemarin, bunyinya enggak begitu lama,” ujar Agus Riyanto, Koordinator Pos Gunung Betung, saat ditemui Krakatau.id, di Basecamp Gunung Betung, Minggu siang (1/6/2025).

Agus bukan satu-satunya yang merasa ada kejanggalan. Dewanto, rekan sesama penjaga pos, juga mengaku gelisah sejak beberapa malam terakhir. “Gak bisa tidur, beberapa hari ini kami,” ucapnya lirih.

Firasat itu ternyata bukan tanpa alasan. Dua hari setelah suara siamang yang tidak biasa itu, tepatnya Sabtu siang, 31 Mei 2025, seorang pendaki bernama Teuku Muhamad Najib Hibabulloh (22) ditemukan tewas setelah tergelincir dari puncak Air Terjun Atas Gunung Betung.

Seperti dikutip dari Krakatoa.id, korban yang diketahui merupakan mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya itu mendaki bersama temannya, Candra, sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah mencapai puncak, keduanya turun dan tiba di area air terjun menjelang siang. Di sinilah tragedi bermula.

“Korban sempat dilarang oleh temannya untuk mendekati tepi air terjun. Tapi dia tetap nekat, katanya mau foto-foto sebentar saja. Akhirnya tergelincir,” ungkap Agus.

Pos penjagaan menerima laporan dari Candra yang panik, dan secepatnya tim evakuasi digerakkan. Proses evakuasi yang melibatkan penjaga pos, pendaki lain, dan warga sekitar berlangsung menegangkan. Sekitar pukul 13.20 WIB, jenazah berhasil diangkat dan diturunkan ke basecamp sebelum akhirnya dibawa ke RSUD Pesawaran sekitar pukul 15.00 WIB.

“Yang bantu evakuasi itu gabungan dari anak-anak pos, pendaki dari Tambak Rejo, petani yang kebetulan berada di sekitar lokasi, juga pendaki-pendaki di camp ground,” kata Agus.

Air Terjun Atas, yang terletak di sisi kiri jalur pendakian menuju puncak gunung dengan ketinggian 1.240 meter di atas permukaan laut.

Kejadian ini bukan kali pertama wisata alam Gunung Betung menelan korban jiwa. Lokasi air terjun, meski memesona dengan kejernihan airnya dan panorama hijau di sekelilingnya, menyimpan bahaya mematikan. Jalur licin dan tepi curam sering kali menjadi perangkap maut bagi mereka yang abai pada peringatan.

“Sudah sering kami ingatkan. Jangan bermain di area terlarang. Kami selalu beri peta, arahan, bahkan cerita dari kejadian-kejadian sebelumnya. Tapi tetap saja ada yang nekat,” imbuh Agus, dengan nada campur antara lelah dan prihatin.

Kini, penjaga pos kembali berjaga di bawah kanopi hutan Betung, waspada terhadap suara-suara alam yang kadang membawa pertanda. Mereka berharap, kisah duka seperti ini tak lagi terulang — bahwa keindahan alam bisa tetap dinikmati tanpa harus kehilangan nyawa.

“Alam punya caranya sendiri memberi peringatan. Kita cuma perlu lebih peka dan lebih taat,” tutup Dewanto pelan, matanya menatap lebatnya hutan yang kembali sunyi.***