KRAKATAU.ID, PESAWARAN — Pulau-pulau di sekitar Pulau Pahawang, Pesawaran seperti Pulau Kelagian Kecil, dan Pulau Kelagian Besar, tidak hanya mengundang wisatawan untuk menikmati keindahan bawah lautnya. Snorkeling memang menjadi daya tarik utama, namun di balik gemerlapnya air biru yang memikat, terdapat aktivitas lain yang tak kalah menarik: memancing. Bagi para pemancing sejati, laut Pahawang bukan hanya sekadar tempat untuk menikmati keindahan alam, melainkan juga medan perjuangan untuk meraih hasil laut yang menggoda.
Dadang Suhendar, seorang pemilik kapal yang biasa mengantar pemancing ke berbagai spot di sekitar Pulau Kelagian Besar, dengan penuh antusiasme berbicara tentang rahasia laut yang menjadi saksi bisu keseruan para pemancing.
“Spot-spotnya ada di sekitar sini, terutama di sebagian desa Ketapang, atau di deretan Pulau Pahawang sebelah sananya. Yang paling jauh mungkin di Pulau Legundi,” ujarnya sambil menatap horizon laut yang tak berujung saat berbincang dengan Krakatau.id di Pulau Kelagian Besar, Minggu (23/3/2025).
Dadang, dengan pengalaman yang bertahun-tahun, menjelaskan bahwa pilihan ikan yang ingin dipancing pun beragam, namun ada beberapa jenis yang menjadi incaran utama.
“Kalau target saya, biasanya tenggiri, Jiti, dan Simba Raweng. Tapi yang paling favorit bagi pemancing itu ada di Legundi. Di sana, lautan lepas itu seperti menghadirkan tantangan dan kenikmatan tersendiri,” lanjutnya dengan senyum yang penuh arti.
Pulau Legundi, dengan ombaknya yang menggulung dan kedalaman laut yang penuh misteri, menjadi surga bagi mereka yang berani mengejar tenggiri dan simba. Di tempat ini, pemancing bukan hanya sekadar menunggu ikan tergigit umpan, tetapi merasakan seakan mereka turut mengayunkan takdir bersama tiupan angin laut yang bebas.
Namun, untuk bisa merasakan sensasi ini, tidaklah murah. Seperti yang dijelaskan Dadang, harga sewa kapal untuk memancing pun bervariasi.
“Untuk sewa kapal di sekitar sini, memancing biasa, biayanya sekitar Rp450 ribu hingga Rp500 ribu. Tapi kalau kita ingin ke Pulau Pahawang, sedikit lebih jauh, harganya bisa mencapai Rp700 ribu. Dan kalau trek yang paling jauh, itu bisa mencapai Rp2.5 juta, tergantung kita pilih jalurnya,” katanya.
Harga yang terbilang cukup tinggi tersebut tentu sebanding dengan pengalaman yang didapat. Tidak hanya perjalanan panjang yang menantang, tetapi juga fasilitas yang disediakan untuk menjaga kenyamanan para pemancing.
“Kami menyediakan es batu, kopi, dan umpan sudah ready. Kalau untuk trek jauh, kita juga menyediakan makan siang, makan malam, dan sarapan pagi. Jadi, tinggal mancing aja,” ujar Dadang dengan senyum ramah.
Tak hanya tentang harga dan fasilitas, yang paling terasa adalah kebersamaan yang tercipta selama perjalanan. Para pemancing yang datang dari berbagai penjuru, seperti Kota Bandar Lampung dan Natar, berbaur dalam kehangatan yang tercipta di atas kapal.
“Selama ini, pemancing dari daerah sekitar sini saja, mereka biasanya mencari spot yang lebih jauh, ke Legundi misalnya. Ada semacam semangat persahabatan yang tercipta di sini,” ujarnya, menatap para pemancing yang asyik dengan pancingnya masing-masing.
Laut Pahawang, dengan segala pesonanya, menjadi lebih dari sekadar tempat berlibur. Ia adalah panggung bagi mereka yang ingin merasakan tarikan kekuatan alam, merayakan kemenangan kecil setiap kali ikan sukses ditangkap, dan menghargai setiap detik yang terlewati di tengah samudera. Bagi sebagian orang, memancing bukan hanya soal menangkap ikan, tetapi tentang menangkap momen, menyatu dengan alam, dan merasakan ketenangan yang hanya bisa ditemukan di laut lepas.***






