Aris Doyok Ajak Pendaki Jangan Lupakan Adat dan Peraturan Lokal dalam Setiap Pendakian

KRAKATAU.ID, BANDARLAMPUNG — Mendaki gunung bukan sekadar soal tantangan fisik, tapi juga soal menghormati adat dan peraturan setempat. Hal ini ditegaskan oleh Aris Doyok, seorang pendaki senior asal Pekon Totokarto, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu. Menurutnya, setiap pendaki, baik yang masih pemula maupun yang sudah berpengalaman, harus mematuhi aturan dan adat yang berlaku di setiap lokasi pendakian.

“Ya saran nih ya sekedar saran, buat teman-teman pendaki pemula dan mungkin yang sudah senior, jadi kalau yang namanya naik gunung entah gunung mana aja, entah yang di Lampung atau pun di luar Lampung, Jawa atau yang di mana-mana kita satu mas, saran kita mengikuti adat-istiadat setempat, peraturan di situ pasti ada,” ujar Aris dengan tegas saat berbincang dengan Krakatau.id, Senin (17/2/2025).

Aris juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan selama pendakian. “Yang kedua terutama yang paling penting adalah sampah. Kalau kita naik, pasti kan kita bawa supermi lah, makanan kecil lah dan sebagainya. Sebisa mungkin kita bawa pulang sampah-sampah kita.” Hal ini bertujuan agar alam tetap terjaga dan tidak tercemar akibat aktivitas pendakian,” kata dia.

Lebih lanjut, Aris mengingatkan agar pendaki saling mengingatkan apabila ada teman yang melakukan tindakan yang tidak sesuai.

“Terus yang ketiga, seandainya memang ada teman yang kira-kiranya melakukan sesuatu yang melebihi batas normal, kita tegor. Sebisa mungkin kita tegor, karena apa pun gunung itu ataupun tanah kita berpijak, tempat gaib pasti ada. Boleh percaya atau tidak, silakan, tapi kalau kita punya Tuhan, harusnya percaya,” ujarnya.

Aris mengajak para pendaki untuk tetap menjaga perilaku dan menghormati lingkungan sekitar.

Dalam kesempatan tersebut, Aris juga menambahkan beberapa tips penting bagi pendaki, terutama yang berencana mendaki di tempat-tempat yang memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang tinggi.

“Buat teman-teman pendaki, tolong satu peraturan setempat diikuti. Terus kalau mau naik, sebisa mungkin minimal lima orang. Jangan ngomong kasar, walaupun ada beberapa orang yang terbiasa ngomong kasar, tapi sebisa mungkin jangan,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa gunung adalah tempat yang dianggap sakral oleh sebagian orang, dan sudah seharusnya para pendaki menghormati nilai-nilai tersebut.

Sebagai tambahan, Aris juga menyarankan untuk selalu mengikuti peraturan setempat, meskipun pendaki mungkin tidak sepenuhnya percaya pada keyakinan atau tradisi yang ada.

“Kalau mereka minta kita bawa ini, ya kita bawa. Walaupun hati kita enggak percaya, tapi tetap nekat harus kita bawa, karena memang itu peraturannya,” jelasnya.

Melalui pesan ini, Aris Doyok berharap agar pendaki lebih bijak dan sadar akan pentingnya menjaga kelestarian alam serta menghormati budaya setempat dalam setiap perjalanan mendaki.***