KRAKATAU.ID, TANGGAMUS — Jika ada satu pelajaran yang bisa saya petik dari pengalaman mendaki Gunung Tanggang, sebuah gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Tanggamus dan Pesawaran, itu adalah ini: Menyukai gunung berarti kita harus menyukai segala bentuk cuacanya. Pepatah ini benar adanya, terutama setelah saya dan beberapa teman menghabiskan akhir tahun 2024 untuk menaklukkan puncaknya.
Pendakian kami dimulai pada 31 Desember 2024, sebuah keputusan yang berani, mengingat cuaca di kawasan gunung seperti ini seringkali tidak dapat diprediksi. Berangkat dari Dusun Pemarang Kuyung di Desa Kiluan Negeri, Kabupaten Tanggamus, kami melintasi jalur yang cukup menantang. Jalurnya berat dan kondisi medan yang samar menguji fisik dan mental kami. Pacet dan kutu monyet yang menyerang tubuh kami sepanjang perjalanan, memperlambat langkah, tetapi kami tak menyerah.
Namun, tantangan sejati datang ketika kami akhirnya sampai di puncak pada pukul 21.00 WIB setelah menempuh perjalanan selama enam jam. Begitu tiba, cuaca yang tak bersahabat langsung menyapa. Langit yang mendung tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat disertai angin kencang. Meski kami sudah mengenakan jaket waterprof, tubuh tetap basah kuyup karena badai yang datang begitu mendalam.
Di sinilah saya sadar, berinteraksi dengan alam bukan hanya soal menikmati keindahannya, tetapi juga menerima ketidakpastian yang sering kali datang bersamaan. Tidak ada pendakian yang sempurna—cuaca bisa berubah kapan saja, membawa tantangan tersendiri bagi para pendaki. Kita harus belajar untuk menghadapinya dengan sabar, dan kadang, ketidakpastian ini justru memberi nilai lebih pada perjalanan.

Pagi hari setelah badai reda, kami disambut dengan pemandangan luar biasa yang memanjakan mata. Dari puncak Gunung Tanggang, tampak laut yang biru eksotis, dan tebing-tebing merah yang dipenuhi lumut hijau dan oranye. Keindahan ini seperti sebuah hadiah dari alam setelah kami bertahan menghadapi cuaca yang penuh tantangan semalam.
Namun, apa yang lebih mengejutkan dan menyentuh hati adalah kondisi alam sekitar. Kami tak menemukan sampah plastik di sepanjang jalur pendakian, bahkan dari pintu rimba hingga puncak. Gunung Tanggang benar-benar menjadi “gunung terbersih” yang pernah kami temui di Lampung. Keindahan alam yang terjaga ini menjadi alasan lebih untuk terus mencintai gunung ini, tidak hanya karena pesonanya, tetapi juga karena kebersihannya yang luar biasa.
Pada akhirnya, pendakian ini mengajarkan saya lebih banyak hal daripada sekadar mencapai puncak. Di luar fisik yang terkuras dan cuaca yang penuh tantangan, gunung mengajarkan kita tentang penghargaan terhadap alam. Gunung Tanggang mungkin belum banyak dikenal, tapi ia menyimpan keindahan yang jauh lebih besar daripada sekadar pemandangan. Keberhasilannya tetap terjaga sebagai salah satu gunung dengan lingkungan yang bersih adalah bentuk kecintaan pendaki pada alam yang bisa dijaga bersama.
Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa mendaki gunung bukan hanya tentang mencapai puncak. Terkadang, cuaca yang tak terduga, badai yang datang begitu mendalam, dan alam yang memberi kejutan, adalah bagian dari proses pendakian yang tidak boleh disesali. Karena di balik setiap tantangan yang dihadapi, ada keindahan yang hanya bisa kita nikmati jika kita siap menerima segala bentuk cuacanya.
Dengan demikian, menyukai gunung bukan hanya soal menikmati pemandangan indah, tetapi juga tentang menerima ketidakpastian dan cuaca yang menguji ketangguhan kita sebagai pendaki. Mencintai gunung berarti mencintai segala bentuk cuacanya, dan belajar untuk berdamai dengan alam dalam segala kondisinya.***






