Jejak Langka di Puncak Leher Kambing: Menyusuri Kehadiran Tapir di Hutan Gunung Pesawaran

KRAKATAU.ID, PESAWARAN — Di tengah hutan rimbun Gunung Pesawaran, sebuah pemandangan langka mengejutkan para pendaki yang tengah berada di jalur menuju puncak Leher Kambing. Pada tanggal 1 September 2024, dalam pendakian yang dipandu oleh Mbah Basrowi, juru kunci Gunung Sukma Ilang, kami secara tak terduga berhadapan dengan jejak telapak kaki tapir yang baru saja melintas.

Gunung Pesawaran, bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman, dikenal sebagai habitat penting bagi tapir, atau yang dalam bahasa setempat disebut ternuk. Momen berharga ini menegaskan bahwa meski keberadaan mereka semakin terancam, populasi tapir di kawasan ini masih cukup signifikan.

Perjalanan pendakian kami kali ini diawali dengan harapan untuk menikmati pemandangan alam yang menakjubkan. Namun, saat kami mendaki menuju puncak Leher Kambing, pemandangan yang kami temui jauh melampaui ekspektasi kami. Di tengah lebatnya vegetasi, kami mendapati tapir yang besar—sebuah tanda bahwa satwa tersebut baru saja melintasi jalur kami.

“Populasi ternuk ya masih banyak, ini memang masih banyak di sini,” ungkap Mbah Basrowi dengan penuh semangat saat kami berdiskusi di jalur pendakian. Mbah Basrowi, yang sering dipanggil Mbah Bas, tidak hanya dikenal sebagai juru kunci gunung tetapi juga sebagai penjaga hutan setempat. Ia melanjutkan, “Barusan seperti kita lihat bersama, ternuk lewat depan kita.”

Mbah Basrowi bahkan memberikan kami tawaran menarik: “Makanya kalau pingin lihat, susurun terus tapaknya, pasti ketemu. Tapi ya, risikonya tanggung sendiri-sendiri,” ucapnya sambil terkekeh. Tawaran tersebut menunjukkan keinginan Mbah Basrowi untuk berbagi keajaiban hutan dengan para pendaki, meskipun dia juga mengingatkan kami tentang tantangan yang harus dihadapi.

Menurut Mbah Basrowi, populasi tapir di Gunung Pesawaran masih cukup banyak, dengan perkiraan sekitar 100 ekor. Namun, ia juga menyampaikan keprihatinannya terkait ancaman terhadap satwa ini.

“Tapir sudah hampir punah populasinya. Kita harus menjaga mereka, jangan sampai punah,” kata Mbah Bas dengan tegas. Ia melarang keras pemburuan tapir dan menekankan pentingnya perlindungan bagi spesies yang dilindungi oleh undang-undang.

Tapir adalah salah satu spesies yang semakin langka di habitatnya. Ancaman utama terhadap keberadaan mereka adalah kerusakan habitat dan perburuan liar. Di Indonesia, tapir hanya bisa dijumpai di Sumatra, dan Gunung Pesawaran di Lampung merupakan salah satu tempat perlindungannya.***