KRAKATAU.ID, BANDARLAMPUNG — RD F. Fritz Dwi Saptoadi merupakan seorang imam sekaligus musisi di Keuskupan Tanjungkarang telah banyak menghabiskan waktunya untuk menciptakan lagu yang tidak hanya menyentuh hati tetapi juga merangkul budaya lokal.
“Tidak banyak orang yang tahu bahwa beberapa lagu dalam Buku Doa dan Nyanyian Gerejawi Puji Syukur adalah hasil ciptaanku,” ujar Romo Fritz begitu sapaan RD F. Fritz Dwi Saptoadi, dengan rendah hati, matanya menyiratkan kebanggaan yang tulus saat berbincang dengan Krakatau.id di Bandarlampung, Kamis (12/9/2024).
Lagu-lagu seperti Puji Syukur (PS) 330, PS 430, dan PS 863 adalah karya-karyanya yang melibatkan kepiawaian dan dedikasi yang mendalam.
Bagi Romo Fritz, yang lebih penting dari sekadar nama pencipta adalah pesan dan nilai yang terkandung dalam setiap komposisi, yang terinspirasi dari teks kitab suci.
Kemampuan musikal Romo Fritz bukanlah hal yang datang tiba-tiba. Di seminari dulu, ia menjabat sebagai asisten dosen untuk mata kuliah seni musik, berkat bakatnya yang mengesankan. Bahkan ketika menghadapi tantangan, seperti mempelajari bahasa Latin, ia dan teman-temannya yang berasal dari luar seminari membuktikan bahwa mereka mampu mengatasi segala rintangan. Keberhasilan ini menegaskan bahwa Romo Fritz memiliki semangat dan kemampuan yang patut diacungi jempol.
Setiap lagu yang diciptakannya adalah hasil dari refleksi mendalam dan penggabungan musik tradisional dengan liturgi Katolik, khususnya mengangkat budaya Lampung.
“Awalnya saya hanya ingin memperkenalkan Gereja Katolik melalui musik,” jelasnya. “Saya tidak berniat mengkatolikan orang Lampung, tetapi ingin menunjukkan bahwa budaya mereka dapat menerima kekristenan dengan cara yang harmonis.”
Bagi Romo Fritz yang saat ini menjabat Ketua Rumpun Pewartaan Keuskupan Tanjungkarang, seni adalah jembatan yang menyatukan berbagai latar belakang tanpa memandang agama atau budaya. “Seni adalah seni, tanpa perlu diklaim sebagai milik budaya tertentu,” tegasnya.
Dedikasinya terlihat dari karya-karya musik yang tidak hanya dipersembahkan untuk keperluan liturgi tetapi juga digunakan dalam berbagai kegiatan, termasuk penggalangan dana oleh Keuskupan Agung Semarang.
Romo Fritz percaya bahwa setiap bakat adalah anugerah dari Tuhan, yang harus digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada umat. “Bakat saya adalah pemberian dari Allah, dan saya berkomitmen untuk menggunakan dan mempersembahkannya kembali kepada Gereja,” ujarnya.
Lagu-lagu ciptaannya seringkali muncul dari momen-momen tenang, bahkan saat berkendara, sebagai bentuk refleksi dan penyampaian iman Katolik yang mendalam.
Namun, inti dari panggilannya adalah “Aku mau berkatekese di tengah-tengah budaya Lampung mulai dengan lagu-lagunya.” Dengan motto hidup “Ini aku, utuslah aku Tuhan,” Romo Fritz menekankan bahwa kesetiaan adalah kunci untuk menjalankan panggilan dan menghadapi setiap tantangan yang ada.
Melalui dedikasi dan kreativitasnya, Romo Fritz tidak hanya memberikan sumbangan besar bagi musik gereja, tetapi juga membuktikan bahwa iman dan budaya dapat saling melengkapi dalam harmoni yang indah.***






