Mengikis Idealisme Sama Saja Menenggelamkan Orang-orang Hebat

Seringkali kita mendengar kata “sok idealis”. Ini salah satu bentuk sindiran dan secara tidak langsung ingin memaki kita bahwa kita seorang yang munafik. Kata “sok idealis” seringkali dilontarkan karena kita dianggap sebagai orang yang mempertahankan kehendak atau keinginan yang ingin kita capai.

Kalau tidak salah, saya mengigat tentang idealisme sang pendiri bukalapak.com .  Zaky sudah hobi otak-atik program, orangpun acuh terhadap dirinya. Hobinya semakin berkembang setelah ia mulai  kuliah di program studi informatika di Institut Teknologi Bandung pada 2004.

Orang tuanya menganggap pekerjaan Zaky terkait proyek-proyek software dianggap kurang menjanjikan. Oleh sebab itu orang tuanya menginginkan anaknya untuk bekerja di perusahaan dengan perolehan gaji tetap.

Seingat saya dia pun pernah menceritakan bahwa pada saat dirinya menganggur dan sedang mengurusi buka lapak sebelum mengahasilkan, ia sering ditanya sedang bekerja di mana dan dia pun mengatakan bahwa sedang melamar di salah satu perusahaan sedang proses tes dan lain sebagainya.

Kita bisa bayangkan, jika seorang Zaky tidak memiliki idealis yang tinggi terkait visi yang ingin dicapainya, saya rasa ia tak akan membuat bukalapak.com terwujud dan menjadi besar. Ketika mengembangkan buka lapak, tentu ia tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi karena rasa idealisme menumbuhkan kemauan yang keras serta perjuangan dalam himpitan kesulitan, maka ia pun kini dapat menikmati hasilnya, bahkan bukan untuk dirinya sendiri,  tetapi seluruh masyarakat bisa ikut menikmati karya yang dihasilkan dari idelisme tersebut.

Contoh di atas menurut saya adalah bentuk idealis entah di sadari olehnya atau tidak. Idealisme saat ini sepertinya menjadi hal yang langka. Sedangkan tanpa idealisme, sebuah tindakan atau pekerjaan tak akan mencapai suatu puncaknya, dan berpotensi berhenti di tengah jalan.

Orang tua yang sering tidak memperdulikan keinginan anaknya dalam menggapai suatu cita-cita, membuat seorang anak harus rela meninggalkan kecintaannya untuk mengikuti kehdendak orang tuanya. Seorang anak yang gemar berolahraga dan ingin fokus, karena olahraga dianggap oleh orang tuanya tidak mempunyai harapan yang bagus bagi masa depan, maka peluang sang anak untuk menjadi “Ronaldo” atau pun mendirikan klub sepakbola pun akan pupus.

Tanpa idealisme, pekerjaan akan marak dengan tindakan korupsi, karena tidak memiliki visi yang jelas dalam bekerja. Tanpa idealisme, seorang politisi akan menghalalkan segala cara untuk dapat berkuasa, entah itu dengan politik uang hingga politik SARA dan adu domba. Artis minim idealisme pun berbondong-bondong menjadi politisi, sehingga justru mengacaukan kualitas dari politik kita. Lihatlah grup band legendaris yang namanya masih begitu besar meskipun semua personelnya sudah tidak ada, itu semua berkat idealisme, tidak sekarang menjadi anak band, besok menjadi guru dan besoknya menjadi politikus, yang pada akhirnya ketika mati ia tidak menjadi apa-apa.

Guru tanpa idealisme dengan tujuan mencerdaskan anak didik, akan menjadi guru yang Cuma mengajar alakadarnya. Atau Cuma guru yang hanya mengejar sertifikasi tanpa memperdulikan anak-anak didiknya.

Seorang guru atau orang tua mengajarkan anak untuk tidak korupsi, tetapi ia kerap mengkorupsi waktu, maka sang anak pun tidak akan memeperhatikan itu semua.

Untuk menumbuhkan sebuah idealisme, kata-kata tak akan berpengaruh kuat dibandingkan perbuatan. Coba lihatlah seorang Mario Teguh yang namanya pudar akibat kasus ada anak  kandung yang tidak diakuinya. Meskipun kata-katanya bagaikan emas, tetapi karena perilkunya dianggap tidak seperti yang dikatakan, maka ia pun menjadi tenggelam.

Mungkin begitu?

Oleh Anton Cakman

Gambar:Freedownload

Add Comment