Kehancuran di Ambang Mata Karena Primordialisme Terkait SARA

Primordialisme yang dimaksud di sini adalah sebuah paham yang menekankan pada suatu ikatan-ikatan, baik itu ikatan kekeluargaan, suku, ras hingga agama. Primordialisme menimbulkan kesempitan dalam berfikir dan pergaualan. Kesempitan tersebut menjadikan wawasan dan rasionalitas pun menjadi sempit.

Secara tidak sadar, disekitar kita atau bahkan kita sendiripun sudah terjebak dengan paham ini. Dalam pertemanan, hanya berteman dengan orang yang satu agama ataupun satu suku. Dalam percintaan, terkadang difokuskan mencari pasangan dari suku atau agama yang sama. Dalam berbisnis pun terkadang kita berfikir seperti itu, hanya mau berbisnis dengan orang-orang yang masih satu suku ataupun satu agama.

Primordialisme menyusahkan antara yang satu dengan yang lainnya untuk bersatu serta bekerja sama. Antara satu dengan yang lainnya akan timbul ketakutan-ketakutan tersendiri. Primodialisme juga berdampak pada terkikisnya rasa kebangsaan.

Berawal dari primordialisme, gerakan-gerakan radikal religus akan terbentuk. Bibit-bibit perpecahan pun akan tumbuh subur karena di dunia ini kita tidak bisa membuat semuanya menjadi seragam. Kemajemukan yang seharusnya menjadi kekuatan suatu kelompok atau bangsa, tetapi karena primordialisme menjadikan kemajemukan awal dari perpecahan dan kehancuran suatu bangsa.

Jika primordialisme tetap ada dan makin berkembang, maka dunia tidak akan bisa mewujudkan mimpi dalam menggapai dunia yang penuh perdamaian. Seruan perdamaian dunia yang diteriakan para pemimpin bangsa dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa pun hanya pemanis bibir belaka yang tak akan terwujud secara nyata.

Menghancurkan primordialisme sebagai upaya mewujudkan kerja sama untuk kebaikan bersama sangatlah penting dan dibutuhkan. Karena dunia ini penuh dengan perbedaan dan kemajemukan, maka tidak mungkin kebaikan serta kedamaian yang universal dapat terwujudkan jika primordialisme tidak dihancurkan.

Sejatinya, kemajemukan memperkaya sudut pandang dalam suatu pemikiran. Perbedaan dalam kemajemukan menjadikan manusia kaya akan cara dan falsafah hidup untuk kebaikan yang universal. Perbedaan dalam kemajemukan pun sejatinya membuat manusia dapat bertumbuh dalam suatu proses kebijaksanaan.

Mungkin begitu?

Oleh Anton Cakman