Antara Pasrah Terhadap Kehendak Tuhan dan Malas, Antara Mabok  Religi dan Beriman

Ketika disebuah grup WA saya share tentang tulisan saya di salah satu media opini terkait fenomena politik yang gak karuan hingga potensi perpecahan yang bisa ditimbulkan terkait politik SARA dan hoax. Dalam grup tersebut ada yang berkomentar dengan gampangnya “gak usah pusing, kita berdoa aja”.

Dari contoh yang pertama, jika melihat hanya berdasarkan keyakinan, itu akan dianggap bagus, tetapi dari kacamata realita kehidupan, itu adalah konyol. Tuhan tidak akan mengubah sesuatu ketika seseorang tidak melakukan suatu gerakan apapun. Sebagai buktinya, tidak ada orang yang berdoa memohon rezeki lalu ada uang jatuh langsung dari langit. Itu membuktikan bahwa manusia yang beriman seharusnya tidak hanya berdoa tetapi berusaha mewujudkan doanya tersebut.

Manusia yang tidak perduli dengan situasi yang terjadi tidak lebih dari seorang manusia pemalas yang mengkambing hitamkan Tuhan. Manusia yang semua-semua diserahkan pada Tuhan tanpa berusaha dan menggunakan akal sehatnya sama saja manusia kurang ajar yang ingin menjadikan Tuhan sebagai babu atau pembantunya, semua-semua minta Tuhan yang mengurusinya.

Manusia seperti contoh di atas memang terlihat sebagai manusia religius, manusia yang berpasrah diri terhadap kehendak Tuhan, tetapi secara fakta, manusia dengan tipe tersebut justru manusia yang tidak berkontribusi bagi kehidupan. Manusia yang hanya gemar menonton, tidak mau terjun langsung memperbaiki keadaan. Tuhan gak mungkin datang langsung untuk memperbaiki keadaan, tetapi manusialah yang memperbaikinya.

Selain kejadian itu saya juga pernah bertemu dengan orang yang sangat religius dan selalu mengaitkan permasalahan hidupnya dengan Tuhan, dan semua-semua dikaitkan dengan kehendak Tuhan. Ia sangat aktif dalam kegiatan keagamaan, bahkan sudah berkali-kali karena sering izin kerja untuk kegiatan keagamaan yang bukan wajib, ia bermasalah dengan pekerjaannya. Ia pun berganti-ganti pekerjaan. Ia meyakini, bahwa itu semua kehendak Tuhan.

Orang seperti ini juga salah satu orang yang sudah mulai mabok sehingga akal sehatnya sudah mulai oleng. Memangnya kalau gak kerja orang bisa bersyukur dan menjalankan tanggung jawab menghidupi anak dan istrinya?

Bisa dibayangkan jika anda menjadi rekan kerja orang seperti itu, karena sering izin dan ditinggal, maka anda harus mengerjakan pekerjaan dua orang sekaligus. Belum lagi bisa dibayangkan, bagaimana jika anda menjadi pemilik perusahaan tersebut yang bertanggung jawab terhadap nasib hidup karyawan, apakah iya tetap mempertahankan orang yang meninggalkan tanggung jawab demi urusan yang bukan wajib? Kalu wajib sih gak masalah, tetapi kalau Cuma kegiatan gak wajib, itu yang jadi masalah.

Saya rasa, Tuhan itu gak sepicik yang disangkakan oleh orang yang sedang mabok religi. Untuk apa berdoa, ikut acara keagaaman kalo dalam dunia nyata gak bermanfaat bagi orang lain, atau bahkan justru merugikan orang lain. Ini adalah cerminan orang beragama yang tidak menggunakan akal sehat. Memang benar kata orang, agama itu seharusnya hanya untuk manusia yang berakal, supaya tidak mencederai agama itu sendiri. Contoh lainnya tentu saja teror yang mengatas namakan agama juga adalah salah satu contoh, orang beragama namun tak berakal.

Oleh sebab itu, saya rasa ukuran iman itu bukan berdasarkan bagaimana kita mengkambing hitamkan Tuhan untuk melakukan pembenaran dalam tindakan kita, dari pembenaran kemalasan hingga kejahatan yang berkedok agama. Orang beriman itu semestinya melakukan hal yang berguna bagi kehidupan, membawa rahmat dan berkat  dengan memaknai ajaran imannya tersebut.

Sekian dan terima kasih

Anton Cakman

 

Add Comment