Tsunami Palu Hingga Hoax Ratna Sarumpaet Potret Kedunguan Kita

Musibah yang menimpa Palu menjadi duka kita bersama. Bencana alam adalah hal yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Pergeseran lempeng bumi, gunung api meletus hingga angin badai, siapakah yang dapat menangkalnya?

Bencana alam bukan soal perhitungan Tuhan terhadap dosa, tetapi itulah alamiah reaksi alam semesta. Tetapi konyolnya, masyarakat kita masih sering menyangkut pautkan bencana alam yang terjadi sebagai hukuman atas dosa manusia.

Meskipun kita tidak dapat menangkal terjadinya bencana alam, tetapi kita masih bisa meminimalisir terjatuhnya korban akibat bencana alam tersebut, dengan teknologi yang ada.

Di palu, bukan tidak dilakukan upaya untuk usaha meminimalisir terjadinya tsunami, ada alat yang digunakan pendeteksi tsunami rusak dan hilang di sana, sehingga peringatan menjadi tidak akurat.

Ini salah satu kedunguan pihak terkait, masa iya tidak ada maintenance rutin, sehingga kehilangan atau kerusakan alat yang penting dan mahal baru ketahuan setelah terjadi bencana? Ini sangat sia-sia. Dan untuk oknum yang mencuri ini juga merupakan keduguan yang sangat akut.

Di Indonesia sendri, negara kepulauan dengan garis lempeng yang sudah diketahui berpotensi gempa hingga tsunami, seharusnya sudah bisa dijadikan modal untuk berjaga-jaga selalu, sebab yang namanya musibah itu, tidak dapat dijadwalkan, bisa datang kapan saja.

Selain gempa yang menimpa palu, kita juga disuguhi oleh drama penipuan yang dilakukan oleh oknum politisi yaitu Ratna Sarumpaet. Ia mengaku bonyok dipukuli orang. Tanpa investigasi dan keterangan dari pihak kepolisian, para politisi yang berada di oposisi pun ikut menyebarkan berita tersebut dibumbui dengan hal-hal yang dapat meyakinkan bahwa tindakan tersebut adalah ulah dari lawan politik.

Pada akhirnya, hasil investigasi polisi membuktikan bawa Ratna Sarumpaet tidak dipukuli, tetapi luka lebam yang dialami karena habis operasi plastik. Jika jajaran elite kita bermain politik sedungu itu, wajar saja jika masyarakat menjadi muak, jengah dan bosan dengan tingkah polah para politisi republik ini.

Namun dungunya, masih banyak masyarakat kita yang juga mempercayai dan tidak melakukan filter terkait semua informasi yang telah beredar. Kurang kritis dan kurang terbuka, sehingga memuja tokoh agama hingga politisi dengan membabi buta.

 

Oleh:Anton Cakman

Gambar:Animesh Nandi

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *