Moralitas Dangkal dari Provokator hingga Koruptor Berpenampilan Gamis dan Santun

Kita sering menganggap bahwa apa yang tampil dipermukaan sebagai wujud dari moral yang baik. Misalnya tutur kata yang lembut, santun dan berpenampilan gamis disetiap kesempatan. Itu seringkali sudah menjadi penilaian yang langsung kita sematkan pada seseorang tersebut bahwa orang tersebut memiliki moral yang baik.

Namun akhir-akhir ini, ada pemimpin daerah dan anggota dewan yang terlihat santun, bahkan berpenampilan gamis, sering melakukan ceramah justru tercyduk Komisi Pembrantasan Korupsi atau KPK. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya pengembangan tetapi mereka terjaring Operasi Tangkap Tangan.

Banyak orang yang kaget dengan fenomena tersebut. Kekagetan itu diakibatkan masih banyak dari kita yang memandang moral dengan sudut pandang yang dangkal. Sudut pandang yang dipaksakan dengan kesantunan dan penampilan. Meskipun kesantunan adalah hal penting dalam kehidupan bersosial terutama di Negara kita, tetapi kesantunan tersebut seharusnya terbentuk karena moral terdalam yang muncul karena empati dalam diri.

Moral tidak dapat diukur dari penampilannya saja, atau sekedar tutur kata yang manis. Moral tidak dapat diukur dengan rutinitas harian orang beragama saja. Itu semua hanyalah moralitas dangkal yang tampak oleh mata. Fakta pun banyak membongkar moralitas dangkal tersebut dengan kasus-kasus atau skandal yang menimpa tokoh-tokoh agama yang masih memiliki standar moral yang dangkal. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum, muncul provokator dalam lingkungan sosial dan politik yang berpennampilan “gamis”. Tokoh bermoral dangkal seperti ini yang akan mencoreng kelompok/komunitas asal dari tokoh tersebut berasal.

Awal dari kesantunan dan moralitas yang mendalam adalah empati. Orang yang memiliki empati, akan dipaksa melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Misalnya, kita tidak akan berlaku kurang baik kepada orang lain, ketika kita berusaha merasakan apa yang dirasakan orang itu ketika itu adalah kita.

Empati tidak mengenal suku bangsa dan agama. Empati tidak memilah-milah untuk membantu, menyelamatkan dan mengasihi manusia. Orang yang memiliki moral dalam sebuah empati, akan membawa rahmat bagi sesama dan bahkan semesta. Tetapi orang yang memiliki moral dangkal, akan menganggap dirinya menjadi orang yang paling benar, dan dapat merusak tatanan karena egoisme yang berkobar dalam kefanatikan diri tentang kembenaran sebatas pandangan mata dan pendengaran telinga.

Sekian dan terima kasih

Oleh Anton Cakman

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *