Kesalahan dan Tindakan Buruk Berawal dari Pemikiran yang Salah

Tindakan yang tidak menggunakan pemikiran terlebih dahulu adalah tindakan reflek. Selain itu, tidak ada tindakan yang tanpa dipikir terlebih dahulu. Baik itu dalam berpikir Cuma sekilas atau yang biasa disebut tidak berfikir panjang.

Orang yang dalam tindakannya tidak berfikir panjang, seringkali berbuah penyesalan pada akhirnya. Tetapi tidak jarang juga, meskipun orang sudah berfikir secara detail, tetapi terkadang juga membuahkan penyesalan jua. Saya pun pernah mengalaminya.

Lalu dimanakah akar permasalahannya? Menurut saya, begitu banyak variable yang mempengaruhinya pikiran dan berakhir pada tindakan yang membawa penyesalan. Penyebab utamanya adalah wawasan yang kurang luas dan mempuni dalam berfikir terkait masalah yang sedang ingin kita selesaikan.

Hukum sebab akibat itu mutlak terjadi. Setiap tindakan, hendaknya difokuskan pada sebab dan akibatnya supaya penyesalan tidak terjadi atau tidak selalu terjadi. Jika terjadi sekali dua kali sih menurut saya wajar, sebab itu adalah salah satu proses dalam pembelajar hidup. Tetapi jika udah berkali-kali, ya saya kira itu tidak wajar karena terjatuh pada lubang yang sama.

Pemikiran yang merupakan aktor utama dalam menimbulkan tindakan selain dipengaruhi oleh wawasan, faktor lingkungan dan sifat kritis juga ikut andil.

Orang yang hidup di kawasan lokalisasi, akan menganggap kegiatan para penjaja sex komersial adalah hal yang biasa. Atau orang yang hidup dilingkungan kawin kontrak sering dilakukan, maka hal tersebut dianggap sudah biasa.

Namun untuk orang-orang diluar lingkungan tersebut, hal itu adalah buruk. Semua itu dipengaruhi dari pemikiran yang berdampak pada sudut pandang orang yang berbeda-beda.

Jika kita mau contoh yang lebih jauh lagi, marilah kita lihat fenomena terorisme yang ada saat ini. Ada sekelompok orang yang menggunakan teror atas nama agama untuk melakukan tindakan bom bunuh diri. Pembunuhan pun dianggap sebagai wujud kecintaannya kepada sang pencipta yang akan berbuah bidadari dan surga.

Orang yang begitu mudah terpapar pemikiran salah, menandakan minimnya sifat kritis. Sedangkan sifat kritis berasal dari wawasan yang luas serta selalu mempertanyakan apa yang dikatakan/dipelajari dan dilihat. Akal budi digunakan untuk segala jenis ajaran, pada akhrinya kebaikan universal yang dihasilkan.

Contohnya adalah, jika ada orang yang melakukan tindak intoleransi, maka sebaiknya dia mempertanyakan kembali terkait tindakan yang dilakukannnya. Pertanyaan bisa dengan sederhana, bagaimanakah jika tindakan intoleran yang dilakukannya menimpa dirinya sendiri.

Itu sekelumit contoh begitu besarnya pengaruh pikiran. Oleh sebab itu, ketika ada fenomena buruk terjadi pada kehidupan sosial kita, hal yang paling utama untuk dibenahi adalah pola pikirnya. Itu menurut saya, yang juga sedang sama-sama belajar untuk membuat pola pikir menjadi lebih baik-baik dan baik.

Sekian dan terima kasih

Oleh:Anton Cakman

Gambar:IronMaiden720 – DeviantArt