Semua Orang Berpotensi Berbuat Baik dan Jahat Tanpa Memandang Suku dan Agamanya

Melihat kenyataan dan fakta yang ada, kejahatan maupun kebaikan dapat dilakukan oleh orang tanpa memandang suku maupun agama yang yang dipeluknya. Semua orang berpotensi melakukan itu semua. Oleh sebab itu, tidak elok rasanya ketika kita memandang dan menilai manusia hanya berdasarkan kepada suku atau agamanya saja.

Saya memiliki teman dari berbagai suku dan agama, semuanya baik-baik. Oleh sebab itu, mereka semua layak saya sebut sebagai teman dan sesama manusia.

Meskipun satu agama, jika perilakunya tidak menunjukkan rasa persahabatan dan kemanusiaan, apakah layak kita jadikan teman? Apalagi jika teman tersebut berperilaku jahat kepada kita baik secara perkataan maupun perbuatan.

Coba tengoklah ke luar sana, adakah orang yang berbeda agama maupun suku berbuat baik? Atau adakah orang yang satu agama dengan kita menjadi penjahat tengik tanpa mengenal perasaan? Tentu saja jawabnya ada.

Dari fakta yang ada, marilah kita memandang sesama kita karena sama-sama manusia, bukan karena persamaan suku dan agama. Menetapkan kebaikan universal sebagai dasar dan standar dalam kehidupan berlandaskan empati, supaya dapat diterima oleh semua golongan masyarakat.

Semua Orang Berpotensi Berbuat Baik dan Jahat Tanpa Memandang Suku dan Agamanya

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, hal-hal seperti ini harusnya dipupuk supaya tumbuh subur. Apalagi mau diakui atau tidak, saat ini benih-benih radikalisme sudah mulai bercokol. Teror atas nama agama sudah sering kita temui. Orang melakukan bom bunuh diri untuk membunuh orang lain yang tidak melakukan kesalahan kepada dirinya. Semua dilakukan atas dasar keyakinan bahwa yang dilakukannya adalah benar menurut sudut pandang  penafsirannya terhadap ajaran agama .

Dalam bernegara, masih ada yang memainkan isu SARA dalam memilih pemimpin. Ini merupakan kemunduran demokrasi.

Demokrasi yang baik dan sehat, tidak memandang sentimen SARA, tetapi seharusnya demokrasi menjadi ajang mencari pemimpin/wakil yang memiliki potensi dalam membangun bangsa.

Indonesia begitu majemuk. Jika kemajemukan ini bisa dijaga dimanfaatkan dengan baik, tentu membawa berkah tersendiri bagi Negara kita. Kebudayaan yang begitu beragam, akan membawa pemikiran yang beragam pula. Kearifan dan kebaikan dari keragaman tersebut akan bisa disatukan oleh ideologi kebangsaan Pancasila.

Agama juga bisa disatukan dengan ajaran kebaikan setiap keyakinan. Sebab, semua agama pasti mengajarkan bagaimana mestinya berbuat baik kepada sesama dan seluruh alam ciptaan sang kuasa.

Sekian dan terima kasih

Oleh : Anton Cakman