Kriteria Ideal Seorang Pemimpin yaitu Petarung dan Pemersatu

Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Tetapi menjadi pemimpin terkadang sangat diidamkan oleh banyak orang, tetapi ada juga yang ogah menjadi seorang pemimpin, jika terkait pemimpin organisasi sosial yang tidak menjanjikan untung secara materi.

Seorang Pemimpin mempunyai kuasa dalam suatu organisasi untuk menggerakkan anggotanya dan juga untuk mengeluarkan kebijakan. Setiap keputusan harus disetujui oleh pemimpin. Pemimpin menjadi acuan dan juga sebagai penjaga suatu system organisasi. Maju tidaknya suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh pemimpinnya. Lalu bagaimanakah semestinya menjadi pemimpin yang baik itu?

Seorang pemimpin yang baik mestinya  mempunyai jiwa petarung. Seorang petarung tidak akan mudah menyerah dan berani dalam mengambil keputusan. Keputusan tersebut tentu saja melalui analisa yang tepat, dapat dipertanggung jawabkan serta berdampak baik secara universal. Misalnya, seorang pemimpin Negara harus berani dan tegas dalam memerangi terorisme dan ujaran kebencian yang begitu banyak menyebar di media sosial, tanpa pandang bulu. Pemimpin Negara mesti berani menegakkan peraturan meskipun harus berbenturan dengan partai-partai pendukung maupun oposisi, dengan catatan memiliki dasar hukum yang kuat dan berdampak baik bagi rakyat. Lobi-lobi politik tidak harus dilakukan jika memang itu akan dimanfaatkan untuk menekan suatu keputusan. Sebab, tidak ada kebijakan yang dapat memuaskan semua orang. Fokusnya adalah nilai dan dampak dari kebijakan itu sendiri.

Selain itu, jiwa petarung akan membawa suatu organisasi menjadi lebih baik dengan berbagai terobosan. Tidak takut mengambil tindakan pada suatu inovasi. Tidak mudah menyerah dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan, jika seseorang pemimpin memiliki jiwa petarung yang seperti ini?

Selain jiwa petarung, pemimpin hendaknya memiliki jiwa pemersatu. Hal tersebut berguna untuk menetralisasi dari jiwa petarung itu sendiri. Misalnya dalam sebuah kompetisi pilkada/pilpres. Para calon berkompetisi dan bertarung, tetapi tetap mengedepankan persatuan suatu bangsa. Jiwa petarung oke, tetapi bertarung dengan nilai-nilai demokrasi yang baik. Tidak menggunakan isu SARA yang berpotensi mememcah persatuan dan kesatuan.

Selain contoh tersebut , tentu masih banyak contoh-contoh yang lainnya. Misalnya, dalam organisasi, hendaknya pemimpin merangkul semua kalangan, tidak ada blok A, blog B dan lain sebagainya. Kemajemukan suatu organisasi adalah asset yang berharga. Dengan kemajemukan, akan menambah kekayaan sudut pandang. Titik temu hendaknya dicari untuk disepakati ditengah-tengah perbedaan untuk menguatkan serta mengembangkan suatu organisasi.

Menjadi pemimpin apapun, marilah kita belajar menjadi petarung dan pemersatu yang handal demi kebaikan bersama. Kebaikan yang universal. Tidak usah pemimpin RT/RW, menjadi pemimpin keluarga pun saya rasa memerlukan hal tersebut.

Sekian dan terima kasih

 

Oleh: Anton Cakman

Gambar:plukme.com