Fenomena Like, Share, Komen, Amin dan Politik SARA

Tidak perlu tedeng aling-aling, iklim politik saat ini sangat pekat dengan sentimen agama. Mungkin ini wajar melihat sistem pendidikan kita yang menggunakan gaya satu arah. Sikap kritis tidak ditempa dalam pendidikan formal, dimana generasi muda hanya terbiasa di jejali oleh tenaga pendidik.

Hal itu menjadi wajar, ketika masyarakat sulit membedakan antara opini dan fakta, antara fiksi dan kenyataan. Cocoklogi digunakan dalam segala lini. Sejarah pun berusaha diubah. Borobudur hingga Gajah Mada pun menjadi target penyelewengan sejarah. Masa iya, candi yang berbau Budha dianggap peninggalan Nabi Sulaiman?

Karakter masyarakat yang sudah terbiasa dengan doktrin, meninggalkan kearifan lokal dan budayanya. Masyarakat begitu mudah kehilangan jati diri. Semua terbiasa ikut-ikutan meskipun itu hanya katanya. Coba lihat saja, sudah berapa banyak yang share like, komen amin di FB dengan harapan dapat masuk surga.

Melihat fenomena like, komen, share masuk surga amin saja kita udah bisa melihat, seberapa besar sifat kritis masyarakat kita. Rasionalitas sudah menjadi nomor sekian. Menilai hanya menggunakan perasaan, dan sentimen, bukan akal sehat. Nah data seperti ini yang bisa digunakan untuk menghancurkan Negara kita dari dalam. Siasat adu domba pun menjadi senjata yang mempuni.

Mungkin kelihatannya fenomena like, share, komen, amin itu sepele, tetapi jika itu berada ditangan yang tepat dan jahat, bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu. Ya salah satunya ya ini, berebut kekuasaan dengan sentimen SARA. Propaganda melalui berita hoax dan lain sebagainya.

Masayarakat yang sudah terbaca tidak kritis, akan mudah terpengaruh oleh propaganda. Berita hoax yang tidak jelas penanggung jawabnya pun dishare melebihi kecapatan cahaya. Menjadi tidak heran jika ada rumor, Trump menang karena big data yang di dapat dari sebuah media sosial. Sebab dari data tersebut dapat kita kelola, persentase pemikiran masyarakat dalam suatu daerah. Setelah itu, kita tinggal mencari cara yang tepat untuk memanfaatkan hal tersebut.

Mungkin anda pernah melihat iklan dalam sebuah website, di situ bisa diperhatikan, bahwa iklan akan muncul bertepatan dengan apa yang pernah kita cari dalam mesin pencari, atau apa yang pernah kita buka. Misalnya, kita habis membuka situs belanja, maka ketika kita membuka web berita yang menggunakan jasa google adsen, akan menampilkan situs belanja dalam iklannya untuk kita.

 

Sekian dan terima kasih

Oleh: Anton Cakman

Gambar: Ala NU

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *