Sudut Pandang Kesuksesan dan Jeratan Konsumtif, Penipuan Hingga Korupsi

Oleh: Anton Cakman

Di dunia ini semua orang menginginkan kesuksesan. Banyak berbagai sudut pandang mengenai apa itu kesuksesan. Semua tergantung dari pola pikir dan cara manusia dalam menikmati kehidupan.

Seseorang yang memiliki nilai spiritual tinggi, akan menganggap hidupnya sukses ketika dirinya bisa menikmati kehidupan dengan penuh kebahagiaan. Kebahagian tersebut bermuara pada pengkondosian suasana hati. Tidak dipengaruhi oleh keadaan apapun, penikmat spiritual akan bisa menjalani kehidupan dengan penuh kebahagian dan syukur. Kebahagian di sini bukanlah kebahagian yang berasal dari kesenangan, tetapi kebahagiaan yang berasal dari hati yang penuh syukur dan mampu berdamai dengan kenyataan di tengah kehidupan yang tidak pasti.

Kesuksesan di atas pun hanya contoh sebagian kecil dari sebuah sudut pandang spiritual, tentu ada versi lain lagi tentang sebuah kesuksesan yang termasuk dalam kesuksesan spiritual dalam menjalani kehidupan. Mungkin kesuksesan ini bisa kita sebut kesuksesan yang tak kasat mata.

Sedangkan untuk kesuksesan yang umum adalah kesuksesan yang bersifat kasat mata. Kesuksesan ini 99 persen digunakan sebagai tolok ukur sebuah kesuksesan pada umumnya.

Kesukesan tersebut  biasanya berupa karir yang mentereng, hingga pendidikan yang tinggi. Sudut pandang kesuksesan ini terkadang membuat manusia terjerumus kedalam tindakan yang dapat merugikan orang lain hingga diri sendiri.

Demi mencapai kesuksesan ini, atau paling tidak bisa dianggap menjadi pribadi yang sukses, orang akan rela berbelanja barang-barang branded tanpa memikirkan apakah itu diperlukan atau tidak. Misalnya seorang selebriti membeli jam tangan dengan harga ratusan juta rupiah untuk membranding dirinya sukses. Padahal, bos Microsof saja yang sudah tidak diragukan lagi kesuksesannya dalam hal materi hanya menggunakan jam seharga ratusan ribu rupiah saja. Demi dianggap sukses, orang rentan menjadi pribadi yang konsumtif.

Untuk memenuhi sifat konsumtif dalam menuju kesuksesan secara kasat mata, orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan uang. Jika ada kesempatan untuk melakukan korupsi hingga menipu pun akan dilakukannya.

Mungkin kita bisa berkaca pada kasus yang belum lama ini terjadi, yaitu mengenai kasus penipuan yang dilakukan oleh Jasa Umroh First Travel yang menipu calon jamaahnya hingga miliaran, dan Abu Tour yang menipu calon jamaahnya hingga triliunan.

Ulasan Media Mengenai Gaya Hidup Mewah Bos First Travel dan Abu Tour

Melihat gaya hidup pemilik perusahaan tersebut sangatlah mentereng. Kesuksesan secara kasat mata sangat jelas dapat dinilai dari mobil mewah, rumah mewah hingga hobi jalan-jalannya ke luar negeri.

Meskipun perusahaan yang didirikan berbau agama, namun secara pribadi kehidupan bos First Travel dan Abu Tour jauh dari kata kesuksesan secara spiritual. Kesuksesan yang dituju dari mereka adalah kesukesan dalam bentuk yang kasat mata/dunia bukan kesuksesan secara spiritual.

Kesuksesan spiritual akan mengganggap penampilan hati lebih penting ketimbang penampilan luarnya saja. Kesederhanaan timbul dari dalam diri karena sudah selesai dengan dirinya sendiri.

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *