Pemimpin Daerah Terjerat KPK dan Kebodohan Kita Sebagai Rakyat Jelata

Oleh: Anton Cakman

Sebuah sistem yang dibuat dalam organisasi negara/daerah, menjadikan semuanya bisa berjalan dengan sendirinya. Hal tersebut menyebabkan mode “auto pilot” bisa dijalankan oleh kepala daerah hingga kepala negara, dengan konsekuensi daerah/negara berjalan ala kadarnya.

Mode “auto pilot” sering dilakukan oleh pemimpin yang hanya mementingkan kekuasaan. Menggores citra dan mencari cara untuk melanggengkan kursi kepemimpinan itu sendiri, menyebabkan daerah/negara yang dipimpinnya tidak diurus atau dibiarkan berjalan ala kadarnya.

Secara nyata, mode “ Auto pilot” menghasilkan begitu banyak proyek mangkrak, program yang tak tepat sasaran, orientasi proyek bagi keuntungan diri terjadi di segala lini dan “asal bapak senang” mengakar dalam birorkrasi di tambah lagi pungli sebagai pelicin pun tejadi, dari nilai “receh” hingga pelicin dalam sekala besar.

Fenomena tersebut dapat dilihat dari banyaknya Kepala Daerah, Kepala Dinas,  DPRD hingga pihak swasta yang terkena OTT oleh KPK. Proyek kongkalikong hingga pelicin proyek menjadi hal yang biasa.

Tidak berhenti di situ saja, setelah koruptor masuk bui pun tetap membawa watak tersebut kedalam lapas, dengan jual beli fasilitas yang lebih nyaman dari kamar kos mahasiswa dengan ekonomi pas-pasan. Pantas saja, koruptor yang keluar gak jera, lawong dipenjaranya begitu. Seharusnya napi-napi yang lain meski melakukan demo, karena diperlakukan berbeda.

Pemimpin berkualitas tidak begitu dibutuhkan jika hanya ingin membuat daerah/negara berjalan “auto pilot”. Anak kemarin sore yang belum paham akan memimpin sekelompok warga di RT pun bisa melakukan hal tersebut.

Buruknya kualitas adalah karena kita juga. Rakyat yang tidak perduli. E perduli. Sedikit emikit empatimpati terkikis. Tak  mau ambil pusing dengan urusan politik, dan menganggapnya tidak berdampak bagi diri sendiri, menganggap siapapun yang terpilih tidak akan berpengaruh apa-apa bagi dirinya. Budaya dan kebiasaan seperti ini diwariskan turun temurun, sehingga dari tahun ke tahun angka golput semakin meningkat. Atau hanya memilih karena kedekatan atau sekedarnya saja.

Ketidak perdulian menyebabkan ogah/tidak mau mempelajari jejak rekam calon pemimpin hingga wakil rakyat. Kualitas menjadi urutan nomor sekian, dan bahkan tidak perduli dengan itu. Pada akhirnya, politisi busuk yang haus kekuasaan serta menggunakan segala cara pun leluasa untuk melakukan aksinya. Pada akhirnya, berdampak pada mengakomodasi kepentingan diri sendiri dan golongannya saja.

Ketidak perdulian menghilangkan rasa kritis. Akan menyadari ketika imbas dari ketidak perdulian menyebar dan mengakar menjadi sebuah borok. Korupsi di sana sini. Rumitnya birokrasi. Suap menyuap dan lain sebagainya. Pada akhirnya, anak cucu pula lah yang menjadi korban kebobrokan itu.

Sekian dan terimakasih

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *