Fenomena Susahnya Cari Kerja dan Juga Pekerja, Dimanakah Letak Kesalahannya?

Oleh: Anton Cakman

Beberapa tahun yang lalu, saya ditugaskan untuk menjadi HRD selama satu tahun, untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Ketika itu, target mencari tenaga kerja merupakan salah satu KPI yang harus dipenuhi.

Memasang iklan lowongan pekerjaan di media-media online pun saya lakukan. Akhirnya begitu banyak lamaran kerja yang masuk setiap harinya. Saking banyaknya, membuat saya pusing dan pengen muntah karena melihat begitu banyaknya berkas, itu belum lagi yang dikirim melalui email.

Namun sialnya, begitu banyak lamaran yang masuk, saya masih juga kesulitan untuk mencari SDM yang benar-benar berkualitas, atau paling tidak memiliki potensi yang dapat dibangkitkan jika si pelamar kerja baru lulus kuliah.

Uniknya, dari 100 orang yang baru lulus kuliah, ketika ditanya berapa persentase skripsi yang dikerjakan, hampir Cuma 1 orang yang 100% mengerjakan sendiri, lainnya 50% hingga 60%.

Sulitnya mencari tenaga kerja yang memiliki potensi ternyata bukan menjadi kendala saya saja. Teman yang kebetulan sedang mencari tenaga kerja di bidang IT mengeluhkan permasalahan yang serupa, berkas lamaran banyak masuk, tetapi sulit mendapatkan yang sesuai harapan.

Dan bahkan, saat saya menulis ini pun saya sedang mencari tenaga kerja, tetapi bagian HRD (bukan saya) belum bisa mendapatkan orang yang memiliki potensi sesuai dengan harapan. Dulu saya pernah mencoba/memaksakan menerima orang, tetapi ditengah jalan tidak kuat dan mengundurkan diri, karena sulit mengerti ketika diajarkan terkait apa yang harus dia kerjakan. Oleh sebab itu, saya tidak mau memaksakan lagi orang-orang yang tidak memiliki potensi untuk bisa digali, karena itu memakan waktu dan tenaga yang sia-sia.

Di satu sisi orang kesulitan mencari pekerjaan, tetapi di satu sisi, orang juga kesulitan dalam mencari pekerja. Ini sangat ironi sekali. Masyarakat kita teriak-teriak kepada pemerintah sulitnya mencari pekerjaan, tetapi kualitas diri yang berguna untuk nilai tawar tidak ada dinaikan.

Apapun pekerjaannya, menurut saya kualitas baik secara ketrampilan dan atitude adalah hal yang penting. Meskipun itu bekerja sebagai kuli bangunan, tetapi jika tidak memiliki tanggung jawab yang penuh terhadap pekerjaan, malas-malasan dan lain sebagainya, juga akan mebuat berpikir seribu kali jika akan memperkerjakannya.

Apapun pekerjaannya, totalitas dan cinta sangat diperlukan, karena banyak hal yang dapat dipelajari dari sebuah pekerjaan. Keihklasan, ketekunan, profesionalisme dan tanggung jawab merupakan hal penting.

Dulu  saya pernah ikut bekerja menjadi kuli bangunan saat menganggur. Begitu banyak yang dapat dipelajari dari profesi tersebut. Paling tidak, saya tidak begitu buta dalam hal bangunan. Bahkan saya memiliki tetangga yang tadinya kuli bangunan, lalu menjadi mandor hingga akhirnya dia mendapat begitu banyak proyek-proyek besar berkat mau belajar dan bertekun.

Ada hal yang tak terlupan ketika saya menjadi kuli bangunan, yaitu teman-teman kerja marah, karena saya masih terus bekerja ketika mereka bersantai ria, bahkan dia bilang ke saya “ kalau di proyek, kamu pasti dihajar orang karena yang lain istirahat kamu bekerja”. Saya heran, padahal waktu itu belum waktu istirahat, jadi wajar dong kalo saya masih meneruskan pekerjaan. Dari situ saya berfikir, bahwa orang-orang tersebut tidak mensyukuri pekerjaan yang didapatnya dengan cara bekerja dengan rasa tanggung jawab.

Mental seperti itu saya rasa masih banyak menjangkiti masyarakat kita. Orang bekerja hanya menunggu waktu pulang. Tidak ada tanggung jawab dan cinta dalam pekerjaan. Belum lagi kualitas pendidikan masih jauh dari kata cukup. Hal tersebut dimungkinkan karena sistem yang kurang baik. Orang kuliah hanya dijejali dengan materi untuk diahafal tanpa diajari seni berfikir. Atau yang kuliah hanya mengejar ijazah saja. Jadi jangan kaget jika ada orang berpendidikan tinggi tetapi tidak seperti yang kita harapkan, tetapi ada juga yang tidak berpendidikan tinggi justru memiliki potensi dan keterampilan yang luar biasa.

Oleh sebab itu saya selalu berpesan kepada mereka-mereka yang masih sekolah supaya benar-benar mencari ilmu, bukan sekedar ijazah, sebab ke depannya, persaingan semakin sengit, dan yang dibutuhkan adalah kemampuan, bukan sekedar ijazah. Mungkin bisa ditengok menteri Susi, meskipun tidak lulus SMA, tetapi beliau dapat berhasil menjadi pengusaha dan menteri.

Saya jadi teringat kata teman saya yang bekerja diperusahaan internasional, bahwa tenaga kerja kasar dari China kalau dibandingkan tenaga kerja kasar dari Indonesia, perbandingannya 1:3, yaitu satu orang tenaga kerja China, soal urusan pekerjaan bisa mengalahkan 3 orang tenaga kerja kita. Jadi wajar saja, jika negara tersebut menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang hampir menyusul Amerika. Yuk kita tuntut ilmu sampai ke negeri China, jika itu perlu.

Sekian dan terima kasih

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *