Tangan-Tangan Tuhan

Oleh: Anton Cakman

Aku dilahirkan tanpa persetujuan dariku, dari perebutan hasil kompetisi para kecebong-kecebong yang menyerbu dan menerobos masuk tanpa permisi. Setelah ku menatap dunia luar rahim ibuku, akupun tidak berdaya saat itu bukan hanya harus mengandalkan cinta untukku hidup, terkadang aku harus menangis untuk mengutarakan yang kurasakan.

Aku bukanlah cuma hanya seperti selembar kertas putih yang kosong , tetapi bagaikan sebuah perangkat komputer atau gadget lainnya pada saat itu, aku merupakan hasil dari tulisan pendahulu yang dijejalkan padaku, otakku memproses semua aplikasi yang diinstalkan ke otakku, itulah aku yang dipaksa menjadi bukan aku dalam kehidupanku sendiri.

Aku tidak dapat memilih untuk dilahirkan dimana, warna kulitku, bentuk wajahku sampai rambutku. Setelah aku terlahirpun aku tidak dapat memilih watak dan sifatku.

Aku hanyalah bentukan dari apa yang ku lihat dan ku dengar, aku tidak lebih adalah cermin dari dimana tempatku berada, serta keadaan saat aku dilahirkan dan tumbuh.

Aku adalah aku disaat ku terdiam termenung di sudut malam dengan melepas apa yang melekat dalam keakuan dan menyadari tanpa campur tangan diluar aku, karena tidak ada yang tahu didunia ini, apakah tangan-tangan Tuhan yang bekerja, atau hanya keegoisan semata yang disimbolkan mahluk seram bertanduk atau bermata satu dengan api yang menyala.