Kegundahan dan Ketakutan si Buruk Rupa

Oleh: Anton Cakman

Aku ditakdirkan menjadi si buruk rupa, iya benar, itu adalah takdir, karena aku tidak dapat mengubah itu. Takdir tidak bisa disalahkan, atau apakah aku harus menyalahkan yang membuat takdir? dan satu hal yang pasti apapun dan siapapun yang kusalahkan tidaklah akan mengubah apa-apa jadi untuk melakukan hal yang sia-sia?.

Kekhawatiranku adalah keinginan, kekhawatiranku adalah cinta, kegelisahanku adalah hari esok. Aku khawatir akan sebuah keinginan, keinginan untuk membuat orang mau memandangku dengan senyum ramah dan kekaguman. Aku juga khawatir akan rasa cinta, siapakah yang mau mencintaiku dengan tulus? karena banyak cinta itu datang dari pandangan pertama, dan aku tahu pasti pandangan pertama akan menimbulkan apa kepadaku. Hari esokpun menjadi momok yang tidak ada habisnya bagiku, momok kesepian, momok tidak memiliki teman dalam hidup untuk bahu membahu, dan akhirnya ketakutanku pada sendiri dimasa senja tanpa penjaga.

Tetapi dibalik itu semua, kekuatanku muncul seiring permasalah dan ketakutanku, dari rasa khawatir akan keiingingan yang cenderung dengan menerima , ku buang keiinginan itu dan menggantinya dengan memberi, begitu juga dengan keingingan mendapatkan cinta, aku ganti dengan memberikan cinta, kekhawatiranku akan hari esok pun ku ubah menjadi memberikan atau melakukan yang terbaik dihari ini supaya menjadi baik dihari esok.

Ketakutan dan kekhawatiranku memaksaku untuk menghalau itu semua karena itu adalah sebuah permasalahan yang harus diselesaikan. Permasalahan itu membuatku kuat, karena semua itu memberikanku imun dan terlatihnya diri dari segala kemungkinan permasalahan dan penyebabnya.

Kini aku sadari, semua akan berakhir seiring dengan waktu, bukan siburuk rupapun pada saatnya akan menjadi siburuk rupa, semua akan menjadi renta, disaat renta orang-orang tidak lagi mengingat siburuk rupa atau bukan buruk rupa, tetapi apa yang sudah kita lakukan dimasa-masa yang lampau, seperti seorang pahlawan yang akan dikenang dan dihormati karena apa yang telah dilakukan, bukan karena bukan siburuk rupa.

Jadi apakah yang harus ditakutkan di dalam dunia ini? bukankah inner beauty itu lebih menarik dan tak lekang dimakan waktu?. Dan kini kutahu mengapa ada kisah tentang ” Si Cantik dan Si Buruk Rupa” yang berakhir bahagia.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *