Memaknai Istri Sebagai Pendamping, Bukan Ngikut Suami

Oleh: Anton Cakman

DI zaman dahulu terkenal istilah wanita yang sudah menikah itu berkutat pada “di sumur, di dapur dan di kasur”. Maksud dari istilah tersebut adalah, ketika wanita itu sudah menikah, maka kehidupannya berkutat pada, mencuci pakaian keluarga, masak untuk keluarga lalu tidur bersama suami, itulah kira-kira arti dari istilah tersebut.

Karena pandangan “ di sumur, di dapur dan di kasur”, kecenderungan pendidikan tinggi tidak terlalu dianggap penting bagi wanita. Seiring berjalannya dengan waktu, begitu banyak wanita yang bekerja, dan menjadi wanita karir, ini menjadikan pendidikan bagi wanita dianggap penting, karena wanita tidak kembali berkutat pada istilah tersebut.

Sebenarnya, meskipun seorang wanita itu tidak bekerja atau tidak menjadi wanita karir, pendidikan tinggi sangat dibutuhkan. Ibu rumah tangga membutuhkan pengetahuan yang luas karena sehari-hari harus mendidik anaknya dengan baik. Kualitas anak secara tidak langsung menjadi tanggung jawab ibu, meskipun seorang ayah memiliki peran yang sama. Tetapi karena waktu lebih banyak dihabiskan dengan ibu, maka pengaruh seorang ibulah yang paling besar.

Meremehkan peran seorang ibu rumah tangga, menurut saya adalah orang yang kurang mengerti akan penting dan beratnya beban seorang ibu dalam mendidik seorang anak dengan berjuta konsekuensi jika melakukan kesalahan terhadap cara didik. Cara didik yang salah akan menimbulkan masa depan suram bagi seorang anak. Sebab, watak seseorang adalah hasil dari sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang, atau pengetahuan yang didapatkan secara berulang akan menjadi tonggak /dasar pemikiran anak hingga dewasa.

Antara suami dan istri sejatinya adalah berdiri berdampingan dalam menjalani kehidupan bersama. Mungkin itu yang menyebabkan adanya istilah, istri itu sebagai pendamping hidup suami dan sebaliknya.

Menjadikan “pendamping”, bukan pengekor adalah hal yang perlu kita sadari bersama, sebagaimana kita harus menyadari segala kelemahan dan kekurangan kita. Sebagai manusia, tentu kita tidak akan luput dari kesalahan, baik itu berupa pemikiran hingga tindakan yang salah. Dari situ peran penting dari seorang pendamping yang saling mengingatkan,  bukan meskipun suami salah, istri tetap mengikutinya, bukannya memberi masukan bahwa yang dilakukan merupakan hal yang salah, begitu pula sebaliknya.

Saya jadi ingat ketika menyaksikan kecelakaan di perempatan lampu merah. Saat itu seorang suami naik sepeda motor membonceng istri dan satu anak yang masih kecil menerobos lampu merah. Saya yang saat itu berada di depannya berhenti, meskipun lampu merah baru menyala, justru dia yang mengendarai sepeda motor dibelakang saya masih tancap gas, dan celakanya sang istri mendukung dengan melambaikan tanggannya sebagai tanda/instruksi untuk pengendaraan yang lain supaya memberinya jalan. Karena di sisi lain orang berkendara dengan cepat, maka tabrakan pun tak terhindarkan.

Dari kejadian di atas, kita bisa belajar, hal yang salah dalam keluarga akan berimbas pada yang lainnya. Misalnya, seorang tulang punggung keluarga yang korupsi, tertangkap dan dipenjara, maka yang terkena imbasnya juga keluarganya. Oleh sebab itu, pentingnya untuk saling mengingatkan, saling melengkapi dan menghargai dalam keluarga merupakan hal yang penting. Semua berperan sebagai pendamping, bukan pengekor. Menjadi wajar jika ada ungkapan, dibalik kesuksesan lelaki ada wanita yang hebat.

Sekian dan terima kasih

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *