Fenomena Sensi, Gontok-gontokan  Terkait Sebuah perbedaan Agama Hingga Pilihan Politik

Oleh: Anton Cakman

Fenomena manusia sensitif tidak hanya terjadi pada individu saja, terkait beban hidup yang berat, tetapi ada fenomena sosial yang juga membuat orang menjadi sensitif. Misalnya, ketakutan akan menjadi kelompok minoritas. Atau kecurigaan kepada kelompok minoritas yang dianggap berusaha untuk mencoba mengikis/menghancurkan dan lain sebagainya.

Kita akan mengambil contoh menegenai fenomena ketakutan akan Kristenisasi dan juga Islamophobia. Ada oknum selain Kristen yang ketakutan terkadang bisa memandang sebelah mata, terhadap fasilitas pendidikan hingga kesehatan yang didirikan oleh organisasi gereja. Anggapannya, hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mengkristenkan orang yang belum Kristen, padahal pada kenyataannya tidak.

Selain Kristenisasi, ada juga yang namanya Islamophobia. Untuk orang yang Islamophobia lupa, bahwa setiap kejahatan itu bisa bersembunyi dalam kedok agama apapun itu. Dulu juga, Gereja pernah dalam masa kegelapan, dimana banyak kejahatan yang bersembunyi dibalik kedok agama. Jadi jangan karena marak teror yang mengatas namakan agama seperti ISIS, menjadikan berpandangan buruk terhadap Islam.

Selain perbedaan keyakinan yang bisa menimbulkan sensi, perbedaan politik pun kerap menimbulan kelompok masyarakat menjadi sensi. Jika kita melihat fenomena politik saat ini, rasa sensi tersebut sangat terlihat nyata. Ada kelompok yang takut jika pemimpin A tetap berkuasa maka Indonesia akan bubar, begitu juga sebaliknya.

Meskipun baru sekedar asumsi, propaganda dalam politik sangat kencang, hal tersebut menyebabkan sebuah asumsi/pendapat sudah dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak karena didengungkan/dipropagandakan secara terus menerus.

Di sinilah pikiran kritis dan rasionalitas masyarakat diuji. Jangan sampai karena kepentingan elite politik, dimana meraka bisa tertawa bersama setelah berdebat, tetapi di akar rumput, sama tetangga bisa tidak setegoran, tidak saling sapa karena perbedaan pilihan politik. Padahal jika ada kebakaran, atau musibah, maka tetangga terdekatlah yang lebih dulu datang dan memberikan pertolongan. Bukan si capres atau cagub yang menjadi pilihan politiknya.

Di dunia ini sangat majemuk, sudah seharusnya semua orang bisa hidup rukun ditengah perbedaan, sebab sampai kapanpun perbedaan akan tetap ada. Untuk manusia yang percaya kepada Tuhan, tentu perbedaan merupakan kehendak Tuhan itu sendiri. Menghormati perbedaan merupakan salah satu cara untuk menghormati sang pencipta.

Begitu pula perbedaan dalam pilihan politik yang bisa digunakan untuk saling kontrol, supaya tidak ada pemerintahan yang otoriter dan semaunya sendiri. Tentu itu harus dipandang sebagai hal yang positif, sebuah sistem yang membawa kepada kebaikan.

Jadi meskipun berbeda janganlah sensi. Pandanglah perbedaan dari segala sudut pandang, bukan dari sudut pandang kita sendiri. Biarkanlah perbedaan tetap berkembang dengan tetap mengedepankan empati, saling menghormati dan menghargai. Maka kekayaan pemikiran pun akan di dapat.

Manusia sensi cenderung memiliki  rasa curiga yang tinggi, memandang individu lain dengan sebelah mata, memandang buruk dan melupakan sisi baik. Berfikir setiap tindakan baik yang dilakukan oleh orang lain itu karena ada maunya, ada udang dibalik batu.

Meskipun begitu, kita juga janganlah terlalu naif. Memandang semuanya baik, ibarat kata menjadi ikan, menganggap makanan yang ada pancingnyapun tetap dilahap, tidak perduli itu merupakan kenikmatan yang menghantarkan kepada penderitaan dan bahkan kematian.

Begitu banyaknya perbedaan, upaya-upaya jahat akan tetap muncul dari oknum-oknum tertentu yang berusaha mengambil keuntungan dari perbedaan tersebut. Oleh sebab itu ada baiknya kita jangan terlalu gampang curiga dan juga jangan terlalu gampang percaya.

Sekian dan terima kasih.

 

Gambar:plugme

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *