Membedakan Kebaikan yang Berupa Fakta Atau Sekedar Keyakinan

Oleh: Anton Cakman

Kita terkadang hanya terbiasa dengan mengira-ngira didalam melakukan penilaian. Contohnya  mengira-ngira bahwa kita adalah kumpulan orang-orang baik, tetapi terkadang kita lupa kebaikan yang seperti apa?, batasan kebaikan itu menurut siapa?, menurut keputusan semua manusia atau sekedar keputusanku, kami, kita atau golongan?.

Bukankah orang-orang yang terbiasa berbohong akan menjadikan berbohong adalah hal yang biasa?, dengan segala dalih, walaupun faktanya itu untuk pemuas ego kita sebagai manusia dengan kata lain yang penting saya untung yang lain buntung pun tidak perduli, yang penting saya bahagia yang lain menderitapun tidak perduli?. Mengapa disebut itu pemuas ego manusia, sebab tidak ada manusia yang mau dibohongi apalagi disakiti.

Ketika masih kecil saya atau mungkin kita diharuskan menggunakan tangan kanan untuk makan. Orang tua tidak memberi alasan yang jelas Cuma bilang, “gunakan tangan bagus” ( tangan kanan ) disaat memegang sendok untuk makan. Bukankah semua tangan itu bagus? Jika dulu alasannya menggunakan tangan kanan karena tangan kiri biasanya untuk cebok, mungkin bisa kita terima dengan akal sehat. Meskipun toh makannya juga menggunakan sendok dan juga sudah cuci tangan. Mungkin itu salah satu contoh kebaikan berdasarka sebuah keyakinan, bahwa tangan bagus itu adalah tangan yang kanan, menurut budaya kita.

Banyak orang yang menilai kebaikan dari sebuah keyakinan, bukan fakta, walaupun secara sederhananya suatu kebaikan dapat dinilai dari hasilnya itu sendiri. Selama keyakinannya tidak merugikan orang lain, seperti jika makan harus menggunakan tangan kanan, menurut saya sih sah-sah saja, dan baik adanya. Tetapi jika sudah merugikan orang lain, itulah yang harus dihindari dan dibuang. Karena itu dapat membuat konflik dan merusak tatanan kehidupan yang majemuk.

Kebaikan/kebenaran yang bedasarkan pada keyakinan tetapi merugikan orang lain contohnya adalah, orang yang menggunakan dalil agama/ideologi untuk berbuat jahat, hingga tega menghabisi nyawa orang yang tidak bersalah.

Semua agama dan ideologi berpotensi digunakan sebagai kedok untuk berbuat teror dan kekerasan. Tidak perduli itu, Islam, Kristen, Hindu, Budha, hingga orang yang tak beragama pun mempunyai potensi yang sama. Kita harus mau menerima kenyataan tersebut, dan meski kritis dalam beragama dan menganut sebuah paham ideologi, agar tidak melanggar hak-hak orang lain dalam kehidupan.

Untuk menghindari hal-hal seperti itu, kita harus berusaha berfikir secara kritis, mempertanyakan hal-hal yang kira-kira tidak umum dilakukan apalagi yang berpotensi merugikan orang lain. Kita mempunyai akal budi yang dapat digunakan sebagai filter untuk mengukur suatu kebaikan. Mana yang benar-benar baik, atau kebaikan mana yang merupakan wujud dari kejahatan yang bersembunyi dibalik topeng kebaikan.

Kebaikan itu bukan dinilai dari keyakinan, tetapi dari proses dan hasilnya. Jika hal itu baik, tentu hasilnya akan baik bagi kehidupan.  Itu yang harus kita ingat.

Pada dasarnya, manusia itu diciptakan baik adanya. Namun seiring dengan waktu, manusia dibentuk oleh apa yang dipelajari dalam proses kehidupan dalam lingkungannya. Itulah sebabnya, lingkungan berpengaruh besar dalam pembentukan karakter seseorang, dari fisik hingga pemikiran. Karena memang manusia dibentuk dari sebuah kebiasaan yang dilakukan/diterima secara berulang-ulang.

Memang, tidak ada manusia yang sempurna, dapat selalu berbuat baik. Tetapi paling tidak, jika mempunyai dasar atau pondasi yang benar sebagai tolok ukur, peluang untuk berbuat baik dan memperbaiki kesalahan akan mempunyai peluang yang cukup besar. Bukankah begitu?

Sekian dan terima kasih