Prilaku dan Lampu Merah, Pertaruhan Nyawa Hanya Untuk Beberapa Menit

Oleh: Anton Cakman

Rambu-rambu digunakan untuk memberi petunjuk, dan mengatur segala kepentingan serta  keselamatan bersama. Banyak berbagai macam-macam rambu disepanjang jalan, hal tersebut tidak lebih digunakan untuk kelancaran , dan sebagai upaya menjaga keselamatan dalam berkendara.

Lampu merah merupakan sebutan untuk lampu rambu lalulintas, biasanya berada di perempatan jalan. Walaupun sebenarnya lampunya tidak Cuma warna merah saja, tetapi ada kuning dan hijau, dimana lampu merah menandakan kendaraan berhenti, kuning bersiap-siap berjalan atau berjalan pelan-pelan, sedangkan lampu hijau menandakan boleh berjalan.

Pelanggaran-pelanggaran seringkali terjadi di lampu merah, pelanggaran yang biasa terjadi adalah, pengguna jalan raya menerobos lampu merah, yang seharusnya lampu merah menandakan kendaraan harus berhenti.

Penerobosan lampu merah terjadi karena adanya peluang atau jeda waktu beberapa detik dari pergantian nyala lampu. Ketika lampu merah menyala di sis A, di sisi B juga masih berwarna merah dalam beberapa detik, lalu berubah menjadi kuning kemudian hijau.

Selain sudah diketahuinya cela untuk menerobos, rasa berani yang berlebihan, merasa lihai dan tentu saja ego yang tinggi membuat orang ingin menang sendiri, enak karepe dewe ( mau enaknya sendiri saja ) adalah sebab lain mengapa seseorang menerobos lampu merah.

Kebiasaan menerobos lampu merah, selain membahayakan diri sendiri, tentu saja membahayakan orang lain juga. Selain efek langsung berupa bahaya yang mengancam akibat pelanggaran tersebut, kebiasaan menerobos lampu merah juga secara tidak langsung memupuk atau membentuk rasa egois, terlalu berani dan cenderung menjadi konyol, serta tidak memperdulikan orang lain, itulah efek yang tidak dapat terlihat dengan langsung. Efek-efek tersebutlah yang menjadikan saya menghindari menerobos lampu merah.

Pentingnya menaati peraturan adalah sebagai wujud empati serta memikirkan orang lain. Dengan menaati perarturan dan rambu-rambu lalu lintas, kita menghormati hak orang lain. Jika peraturan tidak di taati akan terjadi kesemrawutan yang tidak karuan.

Mungkin anda pernah terjebak macet yang disebabkan pengendara tidak mau ada yang mengalah. Semua ingin saling mendahului sehingga terjadi “deadlock”. Maksud hati ingin cepat sampai pada tujuan, akhirnya jadi menghambat. Bukan diri saja yang dirugikan tetapi orang lain juga.

Suatu hari saya pernah melihat kecelakaan di lampu merah dengan mata kepala saya sendiri. Ketika selesai mengisi BBM di pom , lalu saya kembali melaju di jalan raya, tidak lama kemudian sampai pada perempatan lampu merah. Ketika itu lampu rambu baru berubah dari hijau ke merah. Dengan sigap saya berhenti, tetapi ada pengendara sepeda motor di belakang saya yang  membawa istri dan anaknya menerobos begitu saja. Karena saya yang didepannya saja berhenti, maka kemudian pengendara dari seberang sudah mulai berjalan dan menghantam pengendara yang menerobos lampu merah tersebut.

Anak dan istrinya berteriak, tetapi masih untung tidak ada yang terluka parah, karena kendaraan lawan tidak begitu kencang melaju  sepeda motornya. Tangis anaknya pun mengiris hati saya, dan rasanya pengen marah kepada si orang tua. Tetapi marah dan emosi saya berubah menjadi kasihan.

 

Sekian dan terima kasih

 

Gambar:wdbj7.com

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *